Nyamnyon Crafty, Brand Handmade Penuh Cinta dari Arsitek dan Civil Engineer

Sebuah bisnis memang tak selamanya berhubungan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan pendirinya.

Berprofesi sebagai arsitek dan civil engineer, siapa sangka jika pasangan Ibnu Khoiruli dan Intan Qurrotul Aini adalah dua orang di balik brand Nyamnyon Crafty. Brand yang berdiri sejak November 2016 ini memproduksi barang-barang yang berhubungan dengan keperluan interior rumah tangga, mulai dari sarung bantal, pouch, tote bag dan lainnya. “Awalnya karena memang hobi saya crafting, suka bikin benda-benda kerajinan. Jadi daripada cuma jadi hobi, mending dijadiin produk yang bisa dijual,” ujar wanita kelahiran Surakarta, 28 januari 1990.

Salah satu produk yang pertama diciptakan adalah sarung bantal, Instagram menjadi sarana yang dipilih untuk memasarkan produknya. Tak disangka produknya cukup diminati oleh konsumen, akhirnya keduanya makin memantapkan diri untuk ‘lebih serius’ dengan Nyamnyon.

Baca juga: Tasahim, Bermula dari Reseller hingga Punya 4 Brand Sendiri

Sebagai bentuk dari keseriusan keduanya, modal sekira Rp 20 juta digunakan untuk membeli sejumlah material, name tag, packaging, hingga membuat website. Ibnu dan Intan saling berbagi tugas dalam membangun usahanya. Sementara untuk pengerjaan produk dilakukan oleh penjahit khusus. “Kalau motif-motifnya dikerjakan Mbak Intan, kalau desain dan bentuk kita berdua. Nah kalo inspirasi paling kita dari web, dari situ paling kita kembangkan konsumen kita pinginnya seperti apa,” ujar pria kelahiran Pati, 21 Desember 1987 ini.

Produk yang Penuh Warna

Jika dilihat sekilas, yang paling terlihat jelas dari produk Nyamnyon adalah konsitensinya dalam menggunakan warna cerah dan motif-motif yang unik. Mulai dari motif bunga, buah, hingga motif yang cenderung abstrak juga ada di sini. Tak sampai disitu saja, mereka juga menerima pesanan custom seperti untuk keperluan korporasi, wedding, hingga sekolah.

Sarung bantal dari Nyamnyon yang bisa kamu beli di Qlapa

“Kemarin juga kita bikin sarung bantal dengan karakter anak-anak kecil dengan wajahnya sendiri, lalu kalau ada kado buat wedding kita bisa bikin. Karena pada akhirnya kepuasan customer-lah yang memang kita inginkan. Seperti ada perasaan senang tersendiri kalau misalnya ada yang puas sama barang kita,” ujar Ibnu.

Ibnu dan Intan saat di Qlapa Market

Tak hanya menggunakan motif yang unik, nama brandnya sendiri pun unik. Ya, Nyamnyon rupanya merupakan nama panggilan Ibnu saat di bangku kuliah. “Setelah dipikir-pikir, nama ‘nyamnyon’ itu unik dan nggak ada yang nyamain. Sepertinya bakalan cocok buat brand produk handmade yang cute seperti produk kami,” ucap Intan.

Dikerjakan dengan Cinta

Hingga saat ini keduanya mengaku Nyamyon Crafty masih menjadi ‘sampingan’ dari pekerjaan utama mereka. Meski begitu, baik Ibnu dan Intan menjalaninya dengan passion dan cinta yang besar bagi brandnya tersebut. “Karena pada dasarnya memang hobi, jadi kita nggak ngerasa ini sebagai beban. Pas ngerjainnya malah senang dan kayak refreshing. Sabtu Minggu juga kita nyambi-nyambi dan ada kepuasan sendiri,” sambungnya.

Walau masih di tahun pertama, keduanya punya mimpi yang ingin diraih, terutama dalam kemajuan brandnya. Yakni bisa membuka gerai sendiri, dan juga memasok produknya ke berbagai daerah di Indonesia. “Harapannya semoga semakin semakin banyak orang yang kenal dan bangga pakai produk kami, itulah kenapa kami bikin produknya sebaik mungkin, se-premium mungkin, jadi orang bangga pakai produk kami,” tutupnya.

TEST

Tasahim, Bermula dari Reseller hingga Punya 4 Brand Sendiri

Membangun usaha memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Seperti yang dilakukan Ahim saat merintis bisnis tasnya. Jauh sebelum itu, ia sempat mencoba berbagai usaha sebelum akhirnya sukses. Jatuh bangun, semua sudah dilaluinya. Namun menyerah bukanlah kosa kata yang disukai pria kelahiran Jakarta, 30 Oktober 1983 ini.

“Kalau dilihat dari tekad berwirausaha sebenarnya memang bukan tas. Saya pernah bimbingan belajar ke rumah, usaha makanan, tapi nggak ada yang berjalan mulus,” katanya. Pada 2010 ia memulai usaha menjadi reseller sebuah brand tas impor yang sudah cukup dikenal. Setelah beberapa waktu, ia mulai menyadari bahwa orang Indonesia juga mulai menghargai produk lokalnya. Dari sanalah cikal bakal Tasahim lahir.

‘Mencicil’ Modal

Saat memulai brandnya sendiri, Ahim mengaku mengumpulkan modal dari usahanya menjadi reseller tas selama beberapa waktu. Uang yang ia kumpulkan perlahan lalu ia belikan mesin jahit untuk memproduksi tasnya. Dimulai dari satu buah mesin jahit hingga kini ia telah memikiki lima buah mesin sendiri.

Sejatinya berawal dari 2014, produk awal Tasahim berupa ransel untuk pria. Namun ia melihat adanya potensu pasar yang tak terlayani. Tak ingin berpuas hati dengan satu brand, Ahim mengembangkan usahanya menjadi 4 line dengan segmentasi yang berbeda pula. “Yang pertama Tasahim sendiri, itu tas tas ransel dengan motif warna-warna polos yang segmennya anak-anak muda sampai umur 30 tahun. Lalu ada Loecu by Tasahim, yang ada di Qlapa. Brand ini identik dengan motif yang lucu-lucu, segmennya untuk perempuan muda. Terus ada Elaine by Tasahim  yang lebih ke tas tas kulit polos. Yang terakhir ada Elmer by Tasahim, produknya ada tas kulit dan dompet untuk cowok,” urainya.

Baca juga: Birru Jewelry Antarkan Ibu dan Anak Ini Ke Australia

Dengan memiliki sub brand, Ahim mengaku bisa melayani hampir semua kebutuhan pelanggannya yang berasal dari berbagai kalangan. Ia juga berusaha menjaga eksklusifitas produknya dengan menggunakan motif-motif khusus yang dia cetak sendiri, khususnya pada bahan kanvas. Sehingga kecil kemungkinan motif tersebut digunakan oleh brand lain. “Mungkin kalau pengrajin lain membeli bahannya di supplier, misalnya di Tanah Abang, jadi motifnya pas dibikin akan sama. Nah konsumen suka dengan produk kami,  karena cuma kami yang motifnya seperti ini,” sambung Ahim.

 

Tak Sungkan ‘Contek’ Ilmu

Sejak kemajuan dan masuknya internet, sarana belajar bagi setiap orang makin terbuka lebar. Ini juga yang dimanfaatkan Ahim untuk membesarkan usahanya. Mulai dari melihat inspirasi untuk desain, mengembangkan social media untuk marketing, hingga urusan branding. Untuk urusan branding, ia mengaku mengagumi bagaimana Cotton Ink, brand clothing lokal Indonesia melakukannya.

Konsep tiru, amati, dan modifikasi pun dilakukannya. Seperti bagaimana konsep post di Facebook dan Instagram, ia meniru secara template namun menyesuaikan dengan produk tas yang ia miliki. Selain itu ia juga mengaku sering melakukan trial and error dari sisi marketing.

Baca juga: Go Batik Go, Makin Ngetop Sejak Dipakai Presiden Jokowi

Dari sisi pemasaran, Tasahim memiliki website dan toko fisik di Jakarta, serta menjual produknya di beberapa marketplace. Ia juga merasakan manfaat dengan memasarkan produknya di Qlapa. “Selain lebih dikenal, kami juga bisa lebih trusted. Karena dengan join di sini, pelanggan yang masih takut untuk pembayaran secara langsung bisa dimediasi di Qlapa. Jadi mereka lebih percaya. Dan ternyata dari berbagai marketplace, penjualannya paling banyak di Qlapa,” tuturnya.

Ingin Merambah Pasar Internasional

Di tahun ketiga ini, Ahim masih terjun dalam membangun bisnisnya dibantu oleh sang istri, serta 10 orang karyawan yang membantunya dalam produksi hingga operasional. Omzet yang dihasilkan juga terbilang menggiurkan. Setidaknya dalam sehari omzet Tasahim adalah Rp 3 juta rupiah dan bisa mencapai Rp 10 juta saat ramai.

Ke depannya, ia juga masih punya banyak mimpi untuk diwujudkan, diantaranya adalah dengan melakukan kolaborasi dengan artis untuk membuat produk baru. “Seperti yang dilakukan Adidas, tapi entah kalau Tasahim dengan siapa,” sambungnya. Selain itu, ia juga ingin produknya bisa sampai ke pasar internasional. “Pengen banget, hanya belum dapat channel-nya aja. Semoga suatu saat bisa,” tutupnya.

TEST

Birru Jewelry Antarkan Ibu dan Anak Ini Ke Australia

Hubungan antara ibu dan anak tak selamanya hanya sebatas dalam urusan rumah atau keluarga. Hal ini dibuktikan oleh Rent Hayati dan Birru Pagi Lucha yang bersama-sama membangun sebuah brand perhiasan bernama Birru Jewelry.

Sama-sama gemar menggunakan aksesoris, Irent dan Birru kadang merasa ada yang kurang dengan perhiasan yang dibelinya. “Kadang rasanya kurang sreg atau modelnya pasaran. Kami jadi ingin bikin yang baru dan beda dari yang lain,” ungkap wanita kelahiran Padang, Sumatera Barat ini. Merasa ini adalah sebuah peluang usaha yang menjajikan, ia pun berinsiatif untuk memanggil guru untuk mengajarinya membuat perhiasan. Wire jewelry jadi pilihannya. Dari gurunya, ia mendapatkan basic untuk menciptakan perhiasan, mulai dari cara memegang tang hingga merangkai sebuah perhiasan yang cantik.

Diapresiasi Berbagai Pihak

Irent dan sejumlah penghargaan yang diterimanya

Pada Januari 2015 barulah ia memberanikan diri untuk menjual produknya pada orang-orang terdekat. “Saat itu coba bikin sekitar 30 buah, dalam sehari laku 28. Pertama itu jualnya di kantor saudara dan teman-teman,” tambahnya. Hasil yang tak disangka akhirnya membuat ia makin percaya diri untuk terjun lebih serius ke bisnis ini.

Dibantu dengan dua orang pengrajin, Birru Jewelry makin produktif. Bazaar di mall menjadi cikal bakal dan salah satu metode pemasaran yang masih dilakukan. Seorang teman pun menyarankan dia untuk mengikuti salah satu event kerajinan bergengsi di Indonesia, Inacraft.

Tahu bahwa mengikuti event tersebut tidak mudah, Irent dan Birru berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin. Saat diminta untuk mempresentasikan brandnya, segala sesuatunya telah dipersiapkan. Bagi Irent, ini adalah saat ‘berperang’ dan sudah semestinya ‘amunisi’ juga diperlukan. “Awalnya di underestimate, mungkin karena wire jewelry ini udah banyak ya. Tapi akhirnya mereka cukup appreciate dan welcome, dan kami boleh ikut. Di Inacraft 2016 kami juga terpilih jadi nominator meskipun nggak menang tapi sudah cukup senang,” tuturnya.

Lihat juga: Go Batik Go, Makin Ngetop Sejak Dipakai Presiden Jokowi

Meski baru seumur jagung, Birru Jewelry juga mendapat penghargaan lainnya. Dari keanggotannya di sebuah organisasi perkumpulan produsen kerajinan ia juga terpilih menjadi Best New Comer dan direkomendasikan untuk mengikuti seleksi Australian Award di Brisbane, Australia bersama sejumlah pengrajin lainnya.

Desain yang unik

Menjadi salah satu dari sekian banyak pemain di industri perhiasan, khususnya wire jewelry, Irent menyadari kalau ia harus punya ciri khas agar bisa makin dikenal. Dari sisi desain misalnya, brand ini sudah memantapkan diri untuk mengerjakan desain bergaya kontemporer. Sedangkan untuk material juga konsisten pada wire, batu, dan mutiara.

Ia juga menyukai segala sesuatu yang sifatnya asimetris. Tak heran jika sejumlah produknya juga mengadopsi gaya tersebut. “Pengrajin saya sudah tahu kalau saya nggak suka yang simetris,” tambah wanita yang mengenyam pendidikan Bahasa Inggris di IKIP ini.

Setiap model produknya dibuat secara terbatas dengan jumlah maksimal 20 buah. Dengan begitu, eksklusifitas jadi nilai tambah dari brand ini. Rata-rata pelanggan Birru Jewelry adalah wanita professional dengan usia 30 tahun ke atas. Sementara untuk soal harga, Irent memasang harga mulai dari Rp 350.000 hingga Rp 2 juta untuk kalung. Harga tersebut diakuinya kerap dipandang mahal bagi pembeli, terutama di awal ia berjualan. Padahal, ia tak sembarang memasang harga. “Ada pertimbangan dari bahan material dan kreatifitas yang dikeluarkan. Selain itu produk yang kita buat juga selalu limited,” terangnya.

Jadi Usaha Keluarga

Irent dan pengrajin di Birru Jewelry (Foto: Abdu/Qlapa)

Di tahun keduanya ini, telah ada lima orang pengrajin yang membuat perhiasan untuk Birru Jewelry. Irent kebanyakan mengurusi pemasaran sedangkan Birru lebih banyak mengerjakan desain produk. Selain itu, putra Irent juga turut membantu dari sisi marketing, terutama penjualan lewat ecommerce seperti di Qlapa. Dapat dikatakan brand ini kini menjadi sebuah usaha keluarga.

Baca juga: Sugiono Bangun 2G Batik Madura dengan Modal 0 Rupiah

Sejak awal membangun bisnisnya, Irent juga mengeluarkan modal sekira Rp 30 juta dari kantongnya sendiri. Ia mengaku kapok melakukan pinjaman pada bank. Sebelumnya ia mengaku pernah berbisnis di bidang fashion namun usahanya kurang berjalan lancar. “Tapi sekarang saya dan anak saya jalannya perlahan saja, yang penting ada progress terus. Dari awal kita nggak pinjam bank sama sekali. Semua kita kembangkan dari keuntungan yang ada,” sambung Irent. Dari seluruh channel penjualannya, ia mendapatkan omzet Rp 30 hingga Rp 50 juta tiap bulannya.

Irent pun punya tips bagi para crafters yang ingin mulai membangun brandnya sendiri. “Yang penting harus konsisten dengan apa yang kita mulai, serta harus punya ciri khas,” tutupnya.

TEST

Go Batik Go, Makin Ngetop Sejak Dipakai Presiden Jokowi

Pengalaman bekerja di perusahaan garmen bertaraf internasional membuat Simon Hendiawan punya cukup bekal untuk membangun usaha batik. Namun demikian, ia tetap menemukan sejumlah tantangan dalam membangun brand fashion batiknya, Arthesian dan Go Batik Go.

Pamor batik yang naik beberapa tahun belakangan memang tak bisa dipungkiri. Kini hampir semua kalangan menggunakan batik dalam berbagai kesempatan. Berbagai brand batik pun hadir untuk melayani kebutuhan masyarakat. 2015 menjadi tahun pertama produk dari Arthesian meluncurkan produk pertamanya. “Awalnya setiap main ke Jogja sama Solo disitu kami lihat banyak pengrajin batik yang kehidupannya susah sekali. Dari situ kami coba untuk membuat usaha ini secara kecil-kecilan dulu,” ujar Simon. Batik dari Arthesian ditujukan untuk pria muda, dengan cutting slim fit dan desain yang lebih kekinian. Dengan menjual secara online, tak disangka produk batiknya disambut dengan baik oleh masyarakat. Bahkan seringkali produknya habis tak lama setelah diluncurkan.

Utamakan Kualitas

Koleksi Go Batik Go di Qlapa Market

Respon yang sangat positif membuat pria kelahiran Jakarta, 28 Desember 1982 ini akhirnya percaya diri untuk meningkatkan skala produksi yang lebih besar. Ia pun mulai merekrut sejumlah pengrajin. Di sini ia rupanya juga perlu melakukan edukasi pada pengrajinnya demi mendapatkan kualitas produk yang baik. Kebetulan ia juga pernah bekerja di sebuah perusahaan garmen sehingga cukup akrab dengan dunia ini. “Bagaimana cara menjahit supaya bahan-bahannya nggak reject. Untuk mendidik seperti itu memang nggak gampang,” ucap Simon.

Dari segi jahitan misalnya, ia berani menyamakan dengan kualitasnya dengan brand luar negeri. “Kalau di-compare dengan merek-merek luar negeri, kualitas jahitannya dengan kami itu sama.” Bahkan hingga penggunaan bahan pendukung seperti kancing pun, ia sudah menggunakan standar internasional.

Selain kualitas, satu faktor lain yang tak kalah pentingnya dalam memasarkan produk tentunya adalah harga. Simon ingin produknya memiliki harga yang terjangkau. Karena dengan harga yang bersahabat, ia bisa menjual lebih banyak produk. Koleksi kemeja batik dari Go Batik Go dihargai sekitar Rp 240.000 hingga Rp 305.000 sedangkan Arthesian mulai Rp 468.000 hingga Rp 418.000.

Baca juga: Berawal dari Gelang Anyaman, Meno Industries Kini Bisa Hidupi 11 Karyawan

Dipakai Pak Presiden

Sejak awal berdiri, Simon sangat percaya bahwa strategi penjualan online rasanya lebih pas untuk brandnya. Hingga kini produk-produk Go Batik Go dijual di beberapa marketplace termasuk salah satunya, Qlapa. “Di Qlapa memang cukup ketat dan fotonya harus sesuai standar. Kalau tidak, bisa nggak lolos kurasi. Jadi bisa masuk ke Qlapa tuh membanggakan,” urainya.

Kemeja Kawung yang dikenakan Presiden Jokowi

Dengan menjual produknya secara online, diakui Simon segalanya lebih efisien. Namun ia tak menampik jika menjual secara offline juga perlu ia lakukan, terutama untuk mengenalkan brandnya ke masyarakat langsung. Jalan yang dipilihnya adalah dengan mengikuti sejumlah event bazaar. Uniknya suatu saat produknya dibeli oleh orang dekat Presiden Jokowi. “Nggak lama dia kirim foto Pak Jokowi pake,” ujarnya. Foto saat produknya dipakai oleh orang nomer satu di Indonesia itu pun kini kerap digunakan oleh Simon sebagai sarana promosi yang membanggakan.

Pelopor Batik Kekinian

Jika ditelisik dari namanya, Go Batik Go sebenarnya terinspirasi dari permainan Pokemon Go yang sempat tren tahun lalu. Ini adalah satu cara untuk membuat batik menjadi lebih friendly untuk anak muda. Selain itu ia juga mengembangkan sejumlah motif batik baru yang terinspirasi dari tren fashion global. “Misalnya di tren fashion banyak motif paisley. Sebelumnya batik nggak ada motif motif paisley. Jadi saya sering bawa belanjaan dari Jakarta, terus kita kasih lihat ke pengrajin bahwa tren fashion yang lagi ada seperti ini. Akhirnya muncullah motif-motif baru batik yang bisa diterima pasar anak muda,” ujarnya.

Baca juga: Dari Rumah, Dita Bisa Hasilkan Hingga Rp 17 Juta Perbulan

Ia juga menyadari ada problem yang kadang membuat anak muda kurang menyukai batik, ukuran dan cutting yang kadang terlihat kuno. Untuk itu ia membuat batik dengan cutting yang fit di tubuh, namun tetap dengan ukuran yang pas untuk pria Indonesia. “Di indonesia kebanyakan kepingin kemeja yang ngepres tapi kalau ngepres di perut agak bermasalah jadi kita agak dilonggarin sedikit di perut. Tummy friendly-lah,” sambungnya.

Kini, dengan semakin dikenalnya produk Arthesian dan Batik Go Batik, Simon telah mempekerjakan puluhan pengrajin yang ada di daerah. Dan 8 orang pekerja yang ada di Jakarta. Selain itu, ia juga membuka kerjasama seperti dropship.

Kedepannya, Simon ingin produknya bisa sampai ke seluruh Indonesia, dan bisa dijangkau oleh semua orang. “Saya pernah ke Papua, di situ satu baju batik print itu bisa dijual satu setengah juta padahal di sini cuman 200 sampai Rp300.000 di sana bisa satu setengah juta. Karena jalur distribusinya terlalu panjang dan ongkos kirim yang mahal. Dengan itu kita pengen ke sana dan kita bisa jual offline atau online dengan memberikan lapangan pekerjaan untuk banyak orang,” tutupnya.

TEST

Sugiono Bangun 2G Batik Madura dengan Modal 0 Rupiah

Siapa sangka dengan modal ‘dengkul’, sebuah brand bisa berdiri?

Modal kerap kali jadi faktor penentu berkembangnya sebuah usaha. Kekurangan modal juga sering jadi alasan sebuah usaha gagal untuk sukses. Namun minimnya modal tidak jadi halangan bagi Sugiono dalam membangun usahanya. Ia membuktikan bahwa sebuah usaha juga bisa berkembang walau tanpa suntikan dana yang besar.

Bermula di tahun 2012, Sugiono yang saat itu masih bekerja di sebuah perusahaan finansial mulai berpikir akan opsi lain untuknya mencari penghasilan. “Saya sebagai pendatang dari Madura berpikir kalau saya harus punya usaha. Setelah putar otak akhirnya kepikiran kalau yang laku di sini salah satunya adalah batik,” ujarnya. Ayah dua anak ini kemudian mulai merencanakan bagaimana ia ingin memulai bisnisnya. Ia ingin sesuatu yang bisa dikerjakan tanpa modal besar, bahkan kalau bisa tanpa modal sama sekali. Ia pun menemukan jalan untuk memasarkan kain dari pengrajin secara online.

“Saat itu nggak pakai modal sama sekali. Cuma pinjam kain dari pengrajin untuk difoto, lalu menjualnya secara online. Dari hasil penjualan itu kemudian baru dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk jadi modal,” ungkapnya.

Baca juga: Berawal dari Gelang Anyaman, Meno Industries Kini Bisa Hidupi 11 Karyawan

Berkat kegigihannya, modal pun tekumpul dan ia mulai ingin mengembangkan usahanya. Saat itu, ia mulai mengubah jenis bisnisnya yang semula hanya menjual kain batik tulis asal Madura, menjadi pakaian pria siap pakai. Sejumlah penjahit pun mulai mengerjakan pesanannya. Namun karena pertimbangan bisnis, ia kemudian lebih memilih meneruskan untuk menjual kain batik tulis seperti sebelumnya.

Kerjasama dengan Pengrajin

Proses pengeringan batik

Seperti halnya batik pesisir lainnya, batik khas Madura terkenal dengan penggunaan warna yang terang. Ini juga yang ada di produk batik andalan Sugiono. Mulai dari batik cap hingga batik tulis jadi komoditas yang dijual oleh 2G Batik. Hingga saat ini, ia mengaku tidak mempekerjakan pengrajin secara khusus, melainkan bekerja sama dengan sejumlah pengrajin langganan untuk mengerjakan pesanannya.

Lihat juga: Dari Rumah, Dita Bisa Hasilkan Hingga Rp 17 Juta Perbulan

Satu lembar kain batik tulisnya dijual dengan harga Rp 85.000 hingga Rp 185.000. Harga yang terbilang cukup murah untuk ukuran kain batik tulis. “Kami hanya menghitung biaya operasional dan secara ekonomi kami sudah dapat, ya kami cukup sampai disitu saja. Makanya dari segi harga produk kami bisa lebih murah,” ucap pria yang tengah melanjutkan pendidikan masternya.

Pernah Rugi Juga

Dalam bisnis, untung rugi memang hal yang biasa. Hal ini dipelajari oleh Sugiono lewat pengalamannya sendiri. Suatu ketika ia mendapat pesanan dalam jumlah yang cukup besar. Karena order tersebut datang padanya secara online, maka pelanggan hanya melihat gambar yang ia cantumkan. Meski sudah memotret produknya semirip mungkin dengan aslinya, namun tetap saja pasti ada perbedaan dengan aslinya. Akhirnya pelanggan tersebut memutuskan mengembalikan semua produk yang dipesannya. Padahal saat itu ia sudah membayar semua pesanannya ke pengrajin. “Di situ saya terdiam. Lalu ada teman yang bilang, ‘yasudah gak apa-apa. Diemin aja nanti juga laku. Biar lama pasti laku’, Ya akhirnya laku juga walaupun sampai satu tahun,” kenangnya.

Pengalaman itu memberinya pelajaran untuk lebih berhati-hati dan memberi keterangan yang lebih jelas. Untuk pesanan dalam jumlah banyak misalnya, ia akan mengirim satu dulu contohnya, dan memberi pengertian jika batik yang ia jual dibuat secara manual, jadi besar kemungkinan kalau produknya tidak bisa sama seratus persen.

Inkosistensi produk memang jadi satu tantangan dalam mengembangkan bisnisnya. Karena dibuat secara handmade, produk yang sudah dibuat sebelumnya bisa jadi tidak sama semuanya. “Pasti ada bedanya. Walaupun celupannya sama, tangan yang ngerjainnya juga sama. Bisa saja hasilnya beda karena semua dikerjakan manual, bukan pabrikan,” tuturnya.

Perlahan tapi Pasti

Sugiono, owner 2G Batik Madura

Sugiono mengaku menjalankan bisnisnya dengan perlahan. Memulai usahanya tanpa modal, hingga kini ia berprinsip untuk tak mau meminjam modal pada bank. Meski tawaran pinjaman datang padanya, ia tak tertarik untuk mengambilnya. “Nggak apa-apa santai, lebih baik saya dikit-dikit tapi jadi banyak. Daripada modal besar tapi hancur. Nanti malah bingung untuk bayar cicilannya,” pungkasnya.

Uniknya, walau menjalankan usaha secara perlahan namun ia tetap memiliki prestasi dalam usahanya. Salah satunya dengan menjadi Seller of The Month di Qlapa. “Semua marketplace memang saya coba, tapi Qlapa menyumbang sampai 25% penjualan saya secara keseluruhan.” Prestasi ini juga didapatnya dengan upaya yang jelas, yakni dengan mengutamakan kepuasan pelanggan. “Kalau ada order pasti saya kirim di hari yang sama. Kalau stok barangnya habis, saya langsung hubungi CS Qlapa. Lalu kalau ada pesanan PO (Pre Order) saya pasti kerjakan secepatnya, meskipun tenggang waktunya masih lama,” urainya.

Dari usaha yang dikerjakan secara kekeluargaan, dibantu oleh istri dan adik iparnya, Sugiono dapat membiayai keluarganya, serta pendidikan magister yang sedang ia dan istri jalani. Hal ini sudah membuatnya merasa cukup  bersyukur. Namun ia masih memiliki mimpi untuk 2G Batik Madura. Yakni memiliki toko offline di Surabaya. “Tentu saja ingin punya toko di kota besar di Jawa Timur, Surabaya. Lalu juga ingin bisa ekspor ke luar negeri. Yah mudah-mudahan saja tercapai,” tutupnya.

TEST

Ingin Jadi Seller of The Month di Qlapa? Ini Caranya!

Membantu para pengrajin Indonesia adalah salah satu misi yang selalu dikedepankan oleh Qlapa. Sebagai salah satu bentuk apresiasi dan kontribusi untuk memajukan para crafter yang telah bergabung di Qlapa, kami mengadakan sebuah program bertajuk ‘Seller of The Month’. Setiap bulannya, satu seller terpilih akan mendapatkan titel sebagai Seller of The Month dengan keuntungan sebagai berikut: (more…)

TEST

Dari Rumah, Dita Bisa Hasilkan Hingga Rp 17 Juta Perbulan

Kemajuan teknologi sedianya memang mempermudah segala hal, termasuk bisnis. Lewat kreasi tangannya, Dita bisa menghasilkan jutaan rupiah tanpa perlu ke luar rumah.

Lebih dari sekadar alat komunikasi, smartphone kini menjadi sebuah alat yang memudahkan kehidupan kita sehari-hari. Berbagai transaksi bisa dilakukan melalui smartphone. Ini juga yang dirasakan oleh Dita Ratna Kristina Iriani. Sebagai ibu rumah tangga yang tinggal di kota besar, ia mengandalkan kemudahan aplikasi untuk berbagai kebutuhan, termasuk bisnis perhiasannya, Beadstoriez. (more…)

TEST