Frisky Ihrom Febianto, owner Lily Lamp Art

Lily Lamp Art, Menghidupkan Lagi Usaha Keluarga yang ‘Mati Suri’

Meneruskan bisnis keluarga sebenarnya bukan opsi pertama yang dipilih Frisky dalam berkarier. Namun krisis ekonomi global yang terjadi pada 2013 akhirnya membuat pria yang sempat bekerja sebagai travel agent ini memutuskan untuk kembali menghidupkan kembali Lily Lamp Art, usaha keluarga yang berbasis di Bali dan sempat gulung tikar.

Simak obrolan kami dengan Frisky Ihrom Febianto soal perjuangannya membangun Lily Lamp Art dari awal.

Workshop Lily Lamp Art
Workshop Lily Lamp Art

Halo Mas Frisky ceritakan dong, kenapa lebih memutuskan untuk melanjutkan brand Lily Lamp Art sendiri dibandingkan dengan karier yang sudah dijalani?

Pertama karena cita-cita idealis saya ingin jadi owner. Kemudian yang kedua, kasihan kalau (usaha ini) mati begitu saja. Saya bisa sekolah dan sampai sebesar sekarang karena usaha ini. Selain itu saya ingin nama Lily Lamp Art ini bisa sampai jauh. Jadi nanti saya bisa cerita ke anak-anak saya nanti tentang sejarahnya perusahaan ini.

Bisa dibilang Lily Lamp Art yang sekarang adalah yang versi baru, kalau boleh tahu, apa bedanya dengan versi sebelumnya?

Lily Lamp Art awalnya adalah bisnis yang berfokus pada penjualan wholesale and eksport yang sama sekali tidak menggunakan fasilitas online marketing untuk bisnisnya. Nah, saya berinisiatif untuk mengganti pangsa pasar, dan beralih ke penjualan melalui media pemasaran online (online marketplaces). Dimulai dari pembenahan branding, nama Lily Lamp Art diubah menjadi Lily Lamp Art Bali. Media sosial seperti Instagram dan Facebook mulai dibenahi, produk-produk baru mulai diproduksi, difoto, dan dipasarkan online.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Seluruh pengerjaan dilakukan secara manual (Foto: Dok. Lily Lamp Art)
Proses pembuatan lampu hias
Proses pembuatan lampu hias (Foto: Dok. Lily Lamp Art)

Apa yang membuat produk Lily Lamp Art berbeda dengan produk-produk lampu hias lainnya?

Lampu kami 100% handmade menggunakan bahan baku yang pada dasarnya adalah limbah dan merupakan salah satu pengganti ‘kayu bakar’ yaitu bagian klopping kelapa. Pemanfaatan bahan baku ini secara tidak langsung memberikan pendapatan tambahan bagi para petani kelapa yang banyak terdapat di Pulau Jawa dan Bali. Selain itu dari segi desain, dan yang ketiga saya sendiri merasa kalau barang itu nggak bagus, saya nggak akan jual. Jadi di sini pun kadang  saya overbudget. Karena kalau pas finishing itu kurang bagus, akhirnya saya ulangi lagi. Jadi kelebihannya adalah kami menggaransi bahwa produk kami memiliki standard yang bagus.

Ngomong-ngomong kenapa namanya Lily Lamp Art?

Ini diambil dari nama ibu saya, Lily. Menurut saya nama itu juga nggak jelek sih. Dan tentu saja nama itu menyimpan sejarah dan cikal bakalnya terbentuknya Lily Lamp Art.

Oke, lantas apa sih tantangan terberat dalam menjalankan Lily Lamp Art sekarang?

Karena saya take over benar-benar dari 0. Jadi semua saya jalanin sendiri, dari produksi, pemasaran. Akhirnya saya ambil beberapa orang untuk bantu-bantuin saya di pemasarannya dan produksinya. Jadi tantangannya sekarang adalah bagaimana membuat produk itu tetap bisa available. Selama ini kan kendalanya di ada PO (pre order), untuk antar ready stock-nya tuh susah. Karena kita juga harus handle untuk yang offline juga.

Siapa saja tim yang ada di Lily Lamp Art?

Ada tiga orang. Saya, Novy (istri), sama bapak saya masih bantuin. Jadi Novy lebih banyak ke pemasarannya. Dia handle marketplace mulai dari stocking, respon untuk pertanyaan sampai korespondensi ke beberapa hotel dan vila yang ada di offline. Saya sendiri handle produksi dibantu bapak saya.

proses 4

Berapa rata-rata produk yang dihasilkan dalam sebulan, dan kemana saja dipasarkannya?

Dalam sebulan kami bisa membuat hingga 100 buah lampu. Produknya kami jual di beberapa marketplace, salah satunya di Qlapa. Selain itu kami juga masih mengekspor ke beberapa langganan kami yang lama seperti di Jepang, Eropa, dan Australia. Sebelumnya memang kami lebih banyak ekspor, tapi saya melihat Indonesia sendiri termasuk negara yang konsumtif. Makannya saya getol banget fokus untuk bisa masarin produk ini dalam negeri. Yang eksport sih ada juga tapi cuma masih belum begitu saya fokusin sekarang, karena daya beli mereka juga masih belum stabil.

Kalau boleh tahu, berapa omzet Lily Lamp Art saat ini?

Dari marketplace kurang lebih Rp 5 juta, kalau dari offline-nya dari belasan sampe puluhan (juta).

Pengerjaan dilakukan dengan tangan (Foto: Dok. Lily Lamp Art)
Pengerjaan dilakukan dengan tangan (Foto: Dok. Lily Lamp Art)

Punya strategi online marketing khusus dalam memasarkan produk Lily Lamp Art?

Untuk online, selain kualitas dan desain (produk) kita juga harus tahu kebutuhan masyarakat apa. Yang pertama harga terjangkau, kedua kemudahan dalam bertransaksi, kemudahan dalam pengiriman, pengiriman bisa dari biaya dan ketepatan waktunya. Kami juga selalu posting di sosial media pribadi di mana produk kami bisa dibeli, japa kelebihannya, dan kalau sedang ada promo kami bantu posting juga.

Apa sih kendala yang paling dirasakan saat beralih ke pasar online?

Kendalanya itu membuat produk yang ramping tapi bagus. itu tantangan yang agak sulit. Karenakan masyarakat terbeban di ongkos kirim. Sebenernya produk kami banyak jenisnya, cuma karena size-nya cukup besar ongkos kirimnya jadi tinggi sekali pasti.

Terakhir nih, kira-kira lima tahun ke depan Lily Lamp Art sudah seperti apa, ya?

Target kami adalah punya toko lagi, bisa pameran di berbagai tempat. Suatu saat saya harus bisa untuk masuk dan memasarkan produk kami lebih luas lagi. Karena usaha ini challenge-nya beda dari usaha yang lain, sebab lampu dekorasi bukan barang primer yang orang butuh banget. Tapi bagaimana bisa menjual ini sebanyak yang lainnya. Itulah tantangannya.

TEST
koleksikikie75

Koleksikikie, Brand Aksesoris yang Lahir dari Ibu Rumah Tangga

Menjadi seorang ibu rumah tangga tak membuat Riski Hapsari berhenti berkarya. Lewat kreasi jari jemarinya, brand aksesoris Koleksikikie pun lahir.        

Dipercaya menjadi seorang ibu adalah dambaan hampir semua perempuan. Terlebih lagi bila dapat mengurus dan melihat perkembangan anak setiap hari secara langsung. Tugas seorang ibu begitu besar di rumah hingga terkadang si ibu rela melepaskan pekerjaannya demi peran total sebagai ibu. Hal ini juga dirasakan oleh Kikie usai melahirkan anak pertamanya. Ia yang sebelumnya bekerja di kantor akhirnya memutuskan untuk resign setelah kondisi tubuhnya yang kurang fit setelah operasi. Meski sibuk mengurus anak  dan rumah tangga, Kikie merasa ia masih ingin berkarya. Ide-ide kreatif di otaknya masih haus untuk dituangkan.

Sepuluh tahun sudah Kikie merintis bisnis aksesorisnya, KoleksiKikie, bukan perjalanan yang mudah. Simak certia Kikie menyeimbangkan perannya sebagai pebisnis sekaligus ibu rumah tangga.

Dimulai Sejak Remaja

WhatsApp Image 2017-02-16 at 11.02.00
Riski Hapsari saat Mengisi Workshop dan Tutorial

Jika dirunut ke belakang, cikal bakal Kikie berbisnis aksesoris berupa kalung, gelang, dan lain-lain, sebenarnya mulai tumbuh di bangku Sekolah Menengah Pertama. Saat itu, Kikie yang menjabat sebagai ketua OSIS menggalang dana untuk kegiatan sekolah bersama teman-temannya. Setelah berembuk, akhirnya mereka sepakat untuk menjual aksesoris dari rangkaian manik-manik yang dikreasikan sendiri. Tak disangka, aksesoris yang dibuatnya ternyata cukup laku dan banyak peminatnya.

Seiring dengan banyaknya kegiatan, usaha ini pun tak dilanjutkan. Namun kecintaannya pada aksesoris memang tidak padam. Baru pada 2006, ia mulai lagi berkreasi usai mengikuti kelas membuat aksesoris dari sebuah tabloid di Surabaya. Berbekal skill yang didapat dari pelatihan tersebut, ditambah kreatifitas dan rasa ingin tahu yang tinggi, Kikie pun merintis usahanya dengan nama Koleksikikie pada 2007. Saat itu ia mulai menawarkan hasil karyanya pada teman-teman dan orang terdekat. Setelah 3 bulan berlalu, akhirnya ia marasa penjualannya menurun lantaran hampir semua temannya sudah membeli aksesoris yang ia jual.

Dengan kondisi masih memiliki seorang bayi, Kikie sadar betul kalau kemampuannya terbatas. Akhirnya ia melihat peluang untuk memasarkan produknya secara online. “Saat itu masih jarang penjual produk handmade dan cara ini juga memudahkan saya yang baru punya baby. Secara online, saya bisa memasarkan produk aksesoris tanpa harus keluar rumah,” cerita alumnus akuntansi Universitas Airlangga ini.

Akhirnya pada Agustus 2007, ia mulai menjual produknya secara online lewat Multiply. Namun saat itu melakukan jual beli secara online juga belum terlalu populer di Indonesia. Ia merasakan betul bagaimana para konsumen cenderung tidak percaya dengan transaksi online. Lucunya, suatu kali pelanggannya pernah meminta dikirimkan foto rumah Kikie, lantaran tidak percaya. Ada-ada saja!

koleksikikiall
Aksesoris dari Koleksikikie

Namun berkat usaha yang konsisten dan terus mengasah kreatifitas, Koleksikikie kini terus berkembang besar. Dengan ciri khas berupa aksesoris seperti kalung, gelang, yang dimodifikasi dengan kain khas Indonesia, brand ini siap memanjakan para pecinta aksesoris Tanah Air.

Empowering Women Through Crafts

WhatsApp Image 2017-02-16 at 11.02.01

Sukses membangun bisnis tak membuat ibu tiga anak jadi lupa diri. Ia ingin pengetahuannya juga bisa berguna bagi orang banyak. Kikie akhirnya jadi membuka peluang usaha baru berupa workshop dan tutorial di berbagai tempat. Ia juga pernah memberikan workshop dan tutorial bagi korban tsunami di Aceh untuk belajar dan menghasilkan produk yang kemudian bisa dijual.

Uniknya, Kikie justru mengandalkan orang-orang sekitarnya seperti tetangga sekitar, hingga pelanggan yang pernah mengikuti tutorial dan workshop-nya, untuk mengerjakan produksi tokonya. “Untuk langkah pengerjaan yang relatif sama, terus menerus, dan pola sederhana kami serahkan ke orang lain untuk menghemat waktu,” ujarnya.

Kikie menyediakan desain dan bahan yang digunakan untuk produksi. Produk yang dihasilkan dari kelompok-kelompok kecil tersebut, kemudian dikumpulkan untuk dilakukan finishing yang dilakukan di workshop-nya. Dengan sistem upah untuk setiap barang atau aksesoris yang dihasilkan, Kikie berusaha memberdayakan para ibu rumah tangga untuk tetap dapat mendapat penghasilan tanpa perlu ke luar rumah.

Membangun bisnis yang lebih besar memang menjadi salah satu impian Kikie, dan ia sadar betul apa yang dibutuhkan untuk mencapainya. “Mimpi besar saya sebagai pribadi pengen bisa mengajak lebih banyak perempuan untuk membuat craft dan memasarkannya dari rumah. Karena saya melihat, pada akhirnya kalau kita mau lebih maju, kita harus punya kelompok-kelompok kecil, rumah-rumah produksi yang mendukung bisnis craft ini,” pungkasnya.

Kikie saat menjadi pengisi acara World Islamic Econonomic Forum
Kikie saat menjadi pengisi acara World Islamic Econonomic Forum

Dengan pengalaman selama 10 tahun ini, Kikie melihat produk handmade memang tak bisa bersaing dari segi kuantitas. Padahal untuk bisa memperluas jaringan bisnis menuju eksport, dibutuhkan kuantitas tertentu. “Seringkali kita ikut event pameran, pas dapet orderan banyak malah dilepas karena ketidaksanggupan dalam proses pengerjaannya. Misalnya tidak ada bahan baku yang serupa dalam jumlah banyak, tenaga kerja yang terampil dan terlatih kurang, ataupun waktu pengerjaan yang terbatas sementara untuk pembuatan dalam jumlah besar butuh waktu lama,” urainya. Solusinya menurut Kikie adalah pengadaan rumah produksi yang bisa fokus mengerjakan satu kegiatan craft tertentu. Dengan begitu akan lebih mudah untuk mencari supply barang ketika permintaan tinggi.

Lewat jaringan kelompok-kelompok kecil yang semakin banyak dan terlatih, Kikie optimis produk handmade bisa jadi primadona, sekaligus cara untuk memberdayakan wanita.

Sebab menjadi seorang ibu bukanlah alasan untuk berhenti berkarya. Dengan anugerah berupa kemampuan multitasking, seorang ibu bisa mengurus rumah tangga sekaligus membuat bisnis yang tak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tapi juga orang banyak.

TEST
SAMSUNG CSC

Inspiratif! Daripada Pacaran Buang Waktu, Pasangan Ini Buat Bisnis Bersama

 

Bosan sekadar nonton, makan, atau nongkrong saat pacaran? Mungkin ide ini bisa jadi inspirasi pacaran yang produktif dan menghasilkan.

Malas buang-buang waktu untuk hal nggak berguna. Inilah salah satu alasan yang membuat Faishal Azmi Ardika (Dika) dan Ameylia Kania (Kania) saat mendirikan brand handmade Gulaliku. Menjalin hubungan pacaran jarak jauh, Yogyakarta dan Nganjuk, nyatanya nggak membuat kedua sejoli kehabisan inspirasi. Berawal dari hobi yang sama, menggambar, pada Oktober 2014, keduanya sepakat membangun Gulaliku.

“Kita kepikiran untuk buat sebuah project bareng. Idenya sih bikin sesuatu dari gambar kita, yang nggak cuma jadi pajangan aja, tapi juga bisa dipakai sehari-hari,” ujar Dika. Nama Gulaliku sendiri diambil dari jajanan masa kecil yang kini namanya mulai redup. Kania dan Dika ingin orang kembali mengingat jajanan manis nan bersahaja tersebut.

Kalendar meja Gulaliku
Kalendar meja Gulaliku

Produk pertama yang dihasilkan adalah kalendar yang terbuat dari kayu. Lagi-lagi karena faktor ‘sayang’, Dika menggunakan kayu sisa yang digunakan untuk tugas kuliah sebagai material produknya. Kania dan Dika menggunakan hasil ilustrasi yang di-scan, kemudian dicetak sebagai gambar untuk kalendarnya. Karena masih baru memulai, keduanya menggunakan akun media sosial pribadi untuk memasarkan produknya. Dengan respon yang cukup baik, keduanya pun memutuskan untuk meneruskan usahanya.

Gulaliku

Andalkan sisi custom

Hampir tiga tahun berjalan, produk yang dihasilkan Gulaliku kini tak hanya kalendar, namun juga ilustrasi pop up, kartu ucapan, hingga hiasan dinding lainnya. Agar berbeda dari brand lainnya, pria kelahiran 11 Agustus 1993 ini memilih untuk membuat produknya secara customize, alias bisa dipesan sesuai keinginan pembelinya. “Kita ingin memberi personal touch untuk setiap produk yang kita jual. Jadi ada nilai lebih dari karya itu sendiri,” ujarnya.

Dengan membuat produk secara customize, Dika menyadari kalau Gulaliku tidak bisa memproduksi karyanya secara massal. Namun hal itu bukan masalah baginya. Sebab, dengan begitu, ia bisa mengenal setiap pelanggannya secara personal. “Pernah ada yang pesan hiasan dinding yang bentuknya quotes. Si pembeli ini cerita kalau dia mengidap penyakit yang nggak bisa disembuhkan. Quotes yang dia pesan itu jadi salah satu penyemangat dia setiap harinya. Mendengar cerita seperti itu yang bikin kita selalu semangat untuk berkarya. Karena kita tahu karya kita punya makna sendiri untuk yang memilikinya,” cerita Dika yang menimba ilmu di jurusan Desain Komunikasi Visual ini.

Sempat kesulitan membagi waktu

SAMSUNG CSC

Menghidupkan sebuah brand memang bukan perkara mudah, karena diperlukan tekad dan komitmen untuk menjalankannya. Hal ini makin dipersulit karena di awal, Dika dan Kania harus menjalani hubungan jarak jauh. “Jadi kadang produksinya masih setengah jadi, terus dibawa ke Yogya untuk diselesaikan, atau gantian dikerjakan di Nganjuk. Susahnya di situ sih,” terangnya. Tak hanya soal jarak, tantangan dalam membangun Gulaliku juga dirasakan lantaran keduanya masih sama-sama menempuh masa kuliah. Pada awal didirikannya Gulaliku, Dika sendiri masih menjalani kuliah. Alhasil, ia harus bisa membagi waktu untuk fokus pada kuliahnya sambil terus mengembangkan Gulaliku.

Apalagi hingga tahun ketiga berjalan, Gulaliku juga masih dikerjakan oleh Dika dan Kania saja. “Yang saya bingung itu orang sering bilang waktunya kurang. Nyatanya saya harus kuliah dan mengerjakan pesanan tapi saya bisa tetap istirahat cukup. Nggak sering begadang juga, walaupun ngerjainnya cuma berdua aja. Intinya sih gimana kita atur waktunya aja,” pungkas cowok yang hobi desain ini.

Semakin lengket lewat Gulaliku

Dengan melakukan kegiatan positif bersama, Dika dan Kania mengaku belajar banyak. Tak hanya soal bisnis, tapi juga soal mengatur emosi dan kekompakannya dalam hubungan. Hasilnya, pada 2016 lalu keduanya memutuskan untuk menikah dan tidak lagi menjalani hubungan jarak jauh.
“Dengan menjalani bisnis bersama, enaknya ya kita bisa makin dekat karena ngerjainnya bisa bareng. Kan jarang ada pasangan yang bisa gitu, bisa dibilang ya kita ini couple crafter,” imbuh Dika. Karena sudah tidak ada jarak yang menghalangi, keduanya mengaku  jadi bisa lebih produktif. Pembagian kerjanya pun jadi lebih jelas dengan Dika berperan mendesain, dan Kania yang mengurusi promosi sekaligus menyelesaikan proses produksi kertasnya.

Hingga kini produk-produk Gulaliku masih dipasarkan secara online, salah satunya lewat Qlapa. Kalendar mejanya dihargai Rp75.000, sedangkan untuk ilustrasi pop art yang bisa dipesan custom dijual mulai dari Rp175.000. Dengan rata-rata omzet di atas Rp5 juta tiap bulannya. Meski begitu, Dika mengaku masih menyimpan mimpi untuk membuat toko offline untuk menjual produknya suatu saat nanti.

Saat ditanya apa arti Gulaliku untuknya, Dika pun menjawab, “Gulaliku adalah kebahagiaan, karena kami melakukannya dengan senang hati. Imbalannya adalah ketika karya kami dibeli orang. Kami senang karena kami nggak semata-mata dagang, tapi bisa memberi sentuhan personal untuk setiap pelanggan kami,” tutupnya.

 

TEST
XSproject6_750

XSProject: Misi Penyelamat Bumi dan Generasi Pemulung

Lupakan sejenak temaram kilau monas yang meliuk tinggi, pusat perbelanjaan yang berserakan di tiap sudut kota, ataupun kepadatan penduduk yang terlampau rumit. Jika bicara tentang Jakarta dan nilai yang terkandung di balik namanya, bolehlah referensi di atas menjadi pilar utama. Akan tetapi, Jakarta dan penduduknya lebih paham betul akan kehidupan yang dijalani. Dan kini saatnya bergumul dengan entitas lainnya, yakni labirin permasalahan limbah dan sampah yang itu-itu saja, wujud nyata dari megahnya Ibukota.

Tentu permasalahan ini bukan hal yang baru, dan kamu pasti setuju. Di balik lebarnya ruas jalan Jakarta, jika dihujani air selama 5 menit saja permukaan aspal bisa tergenang bebas, walau tidak merata. Tanpa aliran yang bersih untuk dilalui, sampah yang menumpuk masih dapat ditemui di tiap permukaan sungai.

Permasalahan inilah yang akhirnya melahirkan XSProject, sebuah yayasan sekaligus social entrepreneur yang mengolah sampah plastik menjadi produk. Kepada Qlapa, Retno Hapsari selaku general manager dan pengurus XSProject menceritakan banyak hal, membongkar isi dapur dan menegaskan 3 misi penting yang dibawa XSProject.

Baca juga: Modal Rp20 Ribu, Omzet Hibrkraft Kini Rp20 Juta Perbulan!

3 Misi Penting XSProject

XSproject4

XSProject didirikan pada tahun 2004 silam oleh seorang seniman, dan kini, perjuangannya dilanjutkan oleh Retno. Ia menjelaskan, bahwa XSProject tidak dimiliki oleh siapapun, tidak didirikan oleh siapapun. Sesuatu yang ada dan berjalan sampai saat ini di XSProject ditujukkan untuk para karyawan dan pemulung.

“Saya, Retno Hapsari bukan pemilik. XSProject itu tidak ada yang memiliki. Yang memiliki adalah anak-anak pemulung, komunitas pemulung di Cirendeu, atau para karyawan di XSProject. Jadi tidak ada yang memiliki,” tegasnya.

Lebih lanjut Retno menceritakan, bahwa ada 3 hal penting yang sangat krusial di tubuh XSProject. Pertama kepedulian mereka, para penggiat dan pekerjanya terhadap lingkungan, lalu nilai kemanusiaan dan inovasi dalam desain.

Lingkungan dan Tingkat Kesadaran

XSproject

Dari poin pertama, lingkungan, Retno berbicara panjang lebar tentang bagaimana XSProject mengemban misi untuk menyelamatkan bumi. Salah satunya dengan membuat satu produk berbahan dasar sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang. Ya, XSProject menggunakan sampah plastik dan juga lembar iklan billbord yang sudah usang dan tidak terpakai lagi. Mereka memanfaatkan semua hal tersebut dengan tujuan mengurangi tumpukan sampah di Jakarta.

“Produk XSProject itu selalu dari bahan yang sudah tidak dimanfaatkan lagi, salah satunya adalah plastik kemasan. Plastik kemasan itu adalah jenis sampah yang tidak diinginkan orang, tidak dipungut oleh pemulung dan tidak dikumpulkan oleh siapapun karena tidak bermanfaat lagi,” tutur Retno.

Baca juga: Lawe: Menyebarkan ‘Virus’ Cinta Tenun ke Generasi Muda

 Jika kembali bicara tentang Jakarta, dan ya sekali lagi, banjir masih menjadi permasalahan utama. Retno mengamini kemungkinan besar bencana ini disebabkan karena sungai-sungai minim penghijauan. Pesisir sungai dijadikan lahan pembangunan rumah, ditambah terisi sampah yang mengambang. Ironisnya, kita mengetahui hal ini dan tak sadar untuk membersihkan sendiri,

“Intinya, kita semua harus menyadari bahwa bumi kita itu semakin rusak. XSProject ingin mengajak dan mengedukasi teman-teman di Indonesia untuk peduli terhadap lingkungan bumi kita,” imbuhnya.

Kehidupan Pemulung dari Generasi ke Generasi

xsProject2

Dewasa ini kita tentu mengenal banyak organisasi sosial yang merebak, seperti kepedulian terhadap anak yatim, penanggulangan narkoba, atau anak jalanan. Khusus XSProject, kepedulian mereka tertuju pada kehidupan para pemulung, karena pemulung lah peran utama yang berhubungan langsung dengan lingkungan. “Pemulung adalah orang pertama yang memilah sampah, lalu dijual,” kata Retno.

Permasalahan utama bagi XSProject yang sudah hampir berdiri selama 15 tahun masih sama, yakni kondisi pemulung. Dari pengalaman Retno, ia berbagai cerita bahwa dari generasi ke generasi kondisi mereka masih tetap saja sama. Sang kakek seorang pemulung, ayahnya juga seorang pemulung, dan ironisnya sang anak masih harus jadi pemulung. “Artinya? Tidak ada perubahan. Berarti kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan para pemulung itu tidak berubah,” ujar wanita berusia 54 tahun tersebut.

Karena hal inilah XSProject berusaha memastikan setiap pendapatan dari produk yang terjual mengalir ke tangan para pemulung itu sendiri. Memastikan setiap anak-anak pemulung, atau mereka yang tinggal di lingkungan pemulung dapat berkesempatan untuk menempuh pendidikan. “Kalau saja satu anak bisa sekolah besok, itu sesuatu yang lebih baik. Imagine that. Seorang anak tak perlu lagi menjadi pemulung,” tambah Retno.

Meramu Limbah menjadi Produk yang Fungsional

Dapur XSProject terbilang mungil. Berisi tim finansial, business development, quality control dan 4 orang penjahit professional. Kantor yang seringkali beralih menjadi ladang workshop dan edukasi tersebut menjadi ‘tempat pembuangan sampah’ plastik para pemulung.

Dari hasil pengumpulan sampah plastik, mereka memberikan penghasilan lebih kepada para pemulung, selain berniat membersihkan sampah di Jakarta. Setelah dibeli sampah tersebut disulap menjadi produk yang tidak mudah rusak dan praktis, seperti yang bisa kamu lihat di Qlapa.

Produk XSProject didesain seunik dan sepraktis mungkin dengan harapan dapat berguna bagi para pembeli. Produk jadinya antara lain adalah tote bag, pouch, tas belanja, dan Selain secara online, mereka juga mendistribusikan produknya ke berbagai tempat. Ketika ditanya hasil penjualan mereka, Retno menjawab dengan lirih bahwa ternyata lebih banyak orang asing yang tertarik membeli. Mereka lah yang turut serta membantu anak negeri untuk bisa bersekolah, tidak memulung. Lebih ironis lagi, orang asing lah justru yang banyak membantu program-program yang dimiliki XSProject dengan donasi. Dan ini diakui oleh Retno.

Dari cerita di atas, rasanya sedikit ‘mencubit’ kita sebagai penduduk Indonesia. Tujuan mulia yang diemban XSProject malah mendapat dukungan penuh dari orang asing. Namun, inilah pembelajaran penting bagi orang-orang Indonesia, kesadaran akan menjaga dan melestarikan lingkungan kita adalah tugas kita sendiri.

Tugas ini bukan hanya dilakukan dan dirasakan oleh kita, tapi untuk generasi selanjutnya. Buat kamu yang ingin mengetahui lebih lanjut XSProject, kamu bisa mengintip mereka di www.xsproject-id.org atau di www.globalgiving.org/xsproject.

TEST
hibr 750

Modal Rp20 Ribu, Omzet Hibrkraft Kini Rp20 Juta Perbulan!

Hibrkraft hadir untuk mengajak generasi muda kembali menulis jurnal.

Sebagian dari kamu mungkin menekuni hobi ala kadarnya, semata-mata untuk mencari kepuasan sendiri, ada juga yang menekuninya secara professional seperti atlet. Semua dapat berkembang tergantung dari bagaimana kamu memaksimalkan hobi tersebut. Jika beruntung, hobi yang kamu miliki bisa berkembang menjadi bisnis yang menggiurkan, lho.

Hal inilah yang dirasakan oleh Ibrahim Anwar. Berbekal hobinya menulis, Anwar mendirikan Hibrkraft, brand yang berfokus menghasilkan produk handmande berupa jurnal untuk menulis. Kepada Qlapa, Anwar menceritakan perjalanannya mendirikan Hibrkraft.

Dari Hobi ke Produk Tulis

Lelaki kelahiran 1992 yang akrab disapa Anwar ini memiliki hobi menulis. Ia bercerita, sejak kecil kerap melihat sang Ibu menulis, apa pun itu. Ibarat pepatah ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’, kini Anwar mewarisi kegemaran sang Ibu. “Saya jadi suka nulis karena dari kecil liat ibu suka nulis. Apa aja ditulis. Kadang cerpen, kadang catatan belanja, apa aja,” kata Anwar.

Cikal bakal Hibrkfraft dimulai Anwar sejak tahun 2011. Pada awalnya, dengan modal Rp20.000 ia membuat 3 buah jurnal untuk kebutuhan menulisnya. Dari ketiga jurnal itu hanya satu yang terpakai dan ia mencoba memasarkan sisanya. “Bikin model hardcover, dari bahan-bahan bekas seperti kalendar. Saya jual awalnya enggak ada yang mau. Terus akhirnya ada yang beli tuh satu, itu juga karena kasihan,” kata Anwar sambil tertawa.

Merasa produknya gagal, Anwar pun memutuskan untuk tidak lagi memproduksi jurnalnya. Baru pada 2013 lalu ia mulai lagi mulai lagi untuk membuat jurnal dengan desain yang berbeda. Pilihannya jatuh pada jurnal berbahan kulit.

Saat ini Hibrkraft memproduksi jurnal dari berbagai bahan, seperti kulit sintetis dan kulit nabati. Penggunaan bahan tergantung dari produk yang ingin dibuat. Ia mengaku menggunakan bahan kulit karena terinspirasi dari sebuah film. Film tersebut menceritakan seorang pendaki gunung yang selalu membawa buku catatan berbahan kulit ke mana pun pergi. “Dari film itu saya belajar bikin pakai bahan kulit. Ternyata animonya nge-hype banget. Nah, saya kumpulin uang terus saya beli kulit asli. Sampai sekarang berjalan stok udah banyak,” tutur Anwar.

Baca juga: Lawe, Menyebarkan Racun Cinta Tenun pada Generasi Muda

Membangkitkan semangat menulis tangan

Hibrkraft4

Bermarkas di Bojong Gede, Hibrkraft kini memiliki 6 pegawai, yakni 2 orang tim produksi, 3 orang marketing termasuk Anwar sendiri lalu seorang admin dan social media specialist. Setiap harinya mereka memproduksi jurnal murni hasil tangan. Setiap lembar setipis apapun hingga pemotongan kertas dilakukan sendiri, karena kesan handmade-lah yang menjadi ciri khas dari Hibrkraft.

Penjualan produk Hibrkraft tertuju pada anak muda. Di mana menurut mereka kini tingkat membaca dan menulis di kalangan anak muda tengah menurun. Para remaja beralih ke era di mana gadget menjadi senjata andalan dalam setiap aktivitas apapun. “Menulis pakai tangan tuh enggak boleh dihentikan menurut saya. Walau kita menulis di tablet yang bisa gambar-gambar, tetap saja rasanya berbeda,” tutur Anwar.

Jika kita membayangkan, tentu akan terasa berbeda saat kita menggenggam pensil dan gadget. Mengerjakan sesuatu menggunakan tangan pasti terasa lebih bebas dan luwes dibanding gadget.

Usahanya membangkitkan semangat menulis kini juga mulai terasa. Dari penjualan jurnalnya yang dihargai mulai dari Rp30.000 – Rp210.000, Anwar mengaku dapat mengantongi omset rata-rata sekitar Rp 20 juta setiap bulan. Semua tergantung dari pesanan yang diterima. “Kalau corporate order, kita paling banyak 500-an jurnal. Di luar corporate order, sebulan produksi sekitar 50 sampai 60 jurnal,” tutur Anwar.

Baca juga: Canting Hijau dan Mimpi Besar Si Duta Batik

Hibrkraft, Produk handmade yang penuh inovasi

Hibrkraft
Proses pembuatan jurnal Hibrkraft (Foto: Hibrkraft)

Sekadar menjual jurnal semua orang bisa, namun Anwar ingin produk Hibrkraft memiliki nilai yang lebih. Hal ini ia lakukan dengan membuat produk handmade yang punya ciri khas tersendiri. “Semua dibuat dengan manual, sampai memotong kertasnya pun dilakukan dengan tangan. Sebenarnya bisa aja dilakukan dengan mesin, tapi nanti khas-nya Hibrkraft jadi hilang,” ujarnya. Pilihan untuk membuat produk handmade sendiri bukannya tanpa plus minus. Di satu sisi, ia tidak dapat membuat produk secara massal dalam waktu singkat. Namun hal ini bukan masalah baginya, karena dengan begitu, produk Hibrkraft juga bisa dipesan dengan custom.

“Kadang ya itu kalau custom-nya sudah terlalu rumit, sulit juga buatnya. Tapi di situ juga bagian serunya,” katanya. Kesungguhan dalam membuat produk yang berkulitas tinggi juga ditunjukkan dengan cara membuat prototype terlebih dulu. Alih-alih sekadar menjual, setiap produknya harus melewati uji kelayakan yang tidak sebentar. “Kenapa kita pakai ukuran segitu, bahan seperti itu, semua ada alasannya. Banyak juga produk yang kita coba bikin akhrnya nggak kita jual, karena menurut kita kurang oke,” imbuh Anwar.

Selain cukup ketat dalam ‘menyaring’ produk yang dijual ke pasaran, Anwar juga kerap ‘dipaksa’ oleh timnya untuk terus berinovasi. Salah satu buah inovasinya adalah jurnal yang beraroma kopi. “Waktu itu lagi mikirin mau bikin ide apa, pas sambil ngopi. Akhirnya kepikiranlah untuk bikin jurnal yang ada aroma kopinya. Jadilah jurnal yang jenis Kava. Sampai sekarang kita masih dalam tahap mendaftarkan hak ciptanya,” tuturnya.

Terus memupuk mimpi

Seri Kava (Foto: Hibrkraft)

Saat ini ribuan jurnal buatan Hibrkraft telah sampai ke tangan para penikmatnya. Mimpi Hibrkraft agar setiap anak muda melestarikan budaya menulis dan menggunakan produk Hibrkraft dengan bangga. Kedepannya, Anwar ingin membawa jurnal Hibrkraft agar dapat tekoneksi ke gadget, dengan tujuan menstimulus pengguna agar semakin tertarik untuk menulis.

Hal ini membuat Anwar terus semangat untuk mengembangkan bisnis yang sejalan dengan mimpinya. Hibrkraft sendiri juga menyimpan mimpi personal dari pendirinya yang disematkan pada nama brand tersebut. Hibrkraft ternyata diambil dari namanya lengkapnya sendiri, Ibrahim Anwar. “Hibr itu dari Haji dan Ibrahim, dengan tambahan kata kraft di akhir, jadilah Hibrkraft. Karena cita-cita saya mau naik haji, hahaha,” jelas Anwar ketika ditanya sudah Haji atau belum.

Semoga!

Kisah inspiratif lainnya:

SemburArt, Solusi “Keberantakan” yang Penuh Seni

Du’Anyam, Menganyam Mimpi Wanita NTT

TEST
Lawe_weaving

Lawe: Menyebarkan ‘Virus’ Cinta Tenun ke Generasi Muda

Saat gema untuk mencintai produk lokal makin terdengar, nyatanya kain tenun masih perlu berjuang untuk ‘dicintai’ masyarakat Indonesia.

Ketika bicara mengenai kain tradisional, batik mungkin adalah kata yang pertama terlintas di benak kamu. Namun sebenarnya, Indonesia punya lebih banyak kain yang perlu kamu kenali. Ya, kain tradisional ialah satu hal yang membuat Indonesia memiliki daya tarik di mata dunia. Hampir setiap daerah di Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Papua memiliki hasil tenun dan pakaian khasnya masing-masing. Melihat hal ini tentu akan sangat disayangkan jika potensi yang ada tidak dimaksimalkan sebaik mungkin.

Hal itulah yang menjadi bekal Lawe dalam mengembangkan usaha tenun tradisional khas Indonesia. Kepada Qlapa, Fitria Werdiningsih, Manager Unit Bisnis Lawe menceritakan bagaimana ia dan kelima founder Lawe berjuang untuk mengembangkan tenun tradisional Indonesia melalui pemberdayaan perempuan.

Lahirnya Lawe

Secara jiwa, Fitri mengakui bahwa Lawe adalah sebuah social enterprise. Namun sebagai sesuatu yang legal, ia menyebutnya sebagai sebuah perhimpunan. Perhimpunan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas tenun agar menjadi produk yang lebih modern dan fungsional dengan memberdayakan perempuan.

Lawe lahir di akhir tahun 2014, ketika para founder-nya melihat problem yang menghambat perkembangan industri kain tenun tradisional. “Problemnya ada di pemasaran itu sendiri. Indonesia sudah sangat kaya dengan tenun tradisional. Tapi kesulitan mereka adalah bagaimana menemukan pasar, karena kain tenun itu cukup mahal,” tutur Fitri.

Karena dibuat dengan tangan dan butuh waktu pengerjaan yang lama, harga kain tenun cenderung lebih mahal. Untuk menyiasatinya, Lawe mengolah kain tenun menjadi satu bentuk baru seperti dompet, gantungan kunci, tas, dan pakaian yang unik. Dengan membuat produk turunan dari tenun, masyarakat dapat menikmati tenun dengan harga yang lebih terjangkau. Berbasis di Yogyakarta, Lawe pun berusaha mengembangkan kain tenun dari Lombok, Lampung, Pontianak, bahkan hingga ke Nusa Tenggara Timur.

Sejatinya nama Lawe telah berkibar jauh sebelum perhimpunan didirikan. Pada tahun 2004 silam, beralaskan kegemaran dan kepedulian yang sama akan kain tenun tradisional, Adinindyah bersama keempat rekannya mencetuskan untuk mendirikan Lawe. “Lawe yang mengelola ibu Adinindyah. Keempat orangnya adalah Ita Natalia, Paramita Iswari, Rita Anita, dan Westiani Agustin. Lawe sudah bertahan 12 tahun dengan tim ada 18 orang,” jelas Fitri

Dalam perjalanannya, Lawe menjunjung konsep membagi keuntungan yang didapat demi kepentingan bersama, antar pemilik dan pengrajin atau anggotanya. Hal ini dijalankan demi melangsungkan pemberdayaan manusia. “Lawe milik kita bersama. 18 orang yang bekerja di Lawe ini kita anggap owner-nya. Majunya Lawe, itu berarti majunya kita semua,” ucap Fitri.

Mother friendly working hours

lawe dompet

Karena umumnya dikerjakan oleh perajin perempuan. Untuk itu, Lawe memiliki satu jargon yang menjadi ide besar mereka, yakni ‘Mother Friendly Working Hours’. Dengan ini, setiap pengrajin yang bekerja untuk Lawe tak perlu datang. Mereka tetap bisa di rumah, merawat anak-anaknya, bersosialisasi dengan tetangga, namun tetap menghasilkan.

“Jadi, mereka tetap bisa kerja di rumah. Bahan untuk jahitannya itu kita antar, terus mereka jahit sesuai dengan waktu yang ditentukan. Kalau sudah jadi, mereka hubungi kami dengan tagihan dan kita bayar langsung,” jelas Fitri.

Fitri menambahkan, bahwa kini ada sekitar 25 penjahit yang bernaung di bawah Lawe. Itu khusus untuk penjahit saja. Sementara di tim penenun, Lawe membaginya jadi 3 kelompok; yakni kelompok tenun syal, stagen dan lurik.

Meracuni Generasi Muda

Kesan ‘tua’ memang sepertinya masih menjadi sesuatu yang lekat dari tenun, terlebih kain lurik. “Kalau batik sekarang sudah lebih banyak dipakai orang. Tapi kalau bicara tenun, apalagi lurik, orang hanya ingat kalau itu kain yang biasa dipakai rakyat jelata. Kesannya lusuh gitu,” cerita Fitri. Kehadiran Lawe dengan desain dan warna-warna cerah adalah usaha untuk memudarkan stigma tersebut. Kolaborasi dengan desainer-desainer muda Yogyakarta lewat ‘Weaving for Life’, sebuah project pengenalan tenun lewat pendekatan fashion masa kini sejak 2009, diharapkan dapat menjadi cara untuk menularkan ‘virus’ cinta tenun pada generasi muda.

Selain ingin membuat masyarakat kenal dan cinta pada tenun, Lawe juga berusaha melestarikan profesi penenun yang kini sudah ditinggalkan. Minimnya antusias generasi muda menjalani pekerjaan ini menyebabkan profesi penenun terancam punah.

“Sekarang penenun itu sudah tua-tua. Sepuh-sepuh,” ujar Fitri. Di saat potensi kain tradisional memiliki peluang, di lain sisi pengrajinnya semakin loyo. Karena hal inilah Lawe memiliki program yang teramat penting, yakni meregenerasi pengrajin tenun Indonesia.

Jujur saja, regenerasi di tingkat ini memang terlihat minim. Hal ini pun diakui Fitri, sebagai salah seorang yang menjadi saksi dari pengembangan budaya kain tenun. Sebenarnya jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, potensi ini bisa menjadi mata pencaharian utama bagi para penenun.

“Kami ingin ‘meracuni’ lebih banyak lagi pengrajin perempuan. Perlu regenerasi agar tenun Indonesia terus berlanjut,” imbuhnya.

Di balik itu semua, Lawe memiliki segudang rencana untuk dijalankan. Salah satunya kebutuhan ekspor. “Kita bisa menunjukkan ke dunia kalau kain tradisional Indonesia ini harta kartun yang sangat indah. Kami mau bisa ekspor, tapi hambatannya susah bersaing untuk harga,” jelas Fitri.

Dari ceritanya, ia pernah pergi ke Vietnam dan Paris untuk menghadiri pameran di tahun 2014. Lurik yang dibawa jauh dari Indonesia masih dipandang sebelah mata. Dalam arti, orang menganggap produk yang ia bawa serupa dengan hasil kain tekstil dari mesin. Dinilai dari stripe-nya yang berulang dan rapi sehingga terlihat generik. “Kalo nggak ngerasain teksturnya pasti orang nggak akan tau kalo ini tuh tradisional,” tambahnya.

Harapan Lawe untuk mengembangkan kain tenun tradisional Indonesia setidaknya satu langkah mulia yang patut kita acungkan jempol. Usaha kerajinan tangan dengan kearifan lokal melekat pada akhirnya akan menjadi kebanggaan kita tersendiri.

Nah, buat kamu yang mau belajar tentang kain tenun tradisional Indonesia, Lawe membuka craft class setiap hari Selasa di Tegal Kenongo RT 3/ RW 8 No 82, DK 4, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, DIY. Tenang, semuanya gratis!

TEST
canting 750

Canting Hijau dan Mimpi Besar si Duta Batik

Sekadar mengenakan batik, semua orang bisa. Namun mungkin banyak yang tidak sadar kalau yang dipakai bukanlah batik yang ‘sebenarnya’.

Jika bicara batik, rasanya hampir semua orang punya setidaknya satu baju atau kain batik di lemarinya. Batik umumnya dipakai saat pergi ke acara-acara resmi meskipun kini sudah banyak alternatif model yang bisa digunakan sehari-hari. Hal ini tentu saja patut diapresiasi, karena kesadaran masyarakat untuk kembali menggunakan kain tradisional sudah mulai terasa gaungnya.

Sayangnya hal ini kadang tidak sejalan dengan pemahaman masyarakat tentang batik yang sesungguhnya. Pada umumnya, kita merujuk batik lebih pada motif yang ada pada kain. Padahal sejatinya menurut KBBI, batik adalah kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu.

Faktanya, yang banyak beredar di pasaran adalah kain print bermotif batik yang tentu saja menghilangkan esensi dari batik sendiri. Kain tersebut hanya dicetak dengan mesin dan tidak melalui proses pembatikan oleh manusia. Hal inilah yang menjadi salah satu perhatian William Wimpy, pendiri brand Canting Hijau. “Sekarang bukan lagi waktunya untuk mengenalkan saja batik, tapi pemahaman. Dengan begitu kita jadi tahu apa yang kita perjuangkan dan lebih menghargai batik. Mulai dari cara membuat, arti motif dan filosofinya,sehingga kecintaan kita terhadap batik menjadi cinta yang beresensi, bukan sekedar cinta kosong penuh sensasi,” ujar pria yang pernah menjadi finalis Putra-Putri Baik Nusantara.

Kontribusi Nyata di Dunia Batik

Dalam perannya sebagai duta batik, William merasa perlu melakukan kontribusi nyata dalam melestarikan batik. Terlebih dengan hadirnya kain batik print dengan harga yang lebih murah, yang sedikit demi sedikit mengancam keberadaan para perajin batik.
“Kami ingin membuat batik yang didesain dengan kekinian agar virus-virus cinta batik dapat mudah tersebar di generasi muda,” katanya. Berkat pertemuannya dengan Septiyani Haryono, pada 2014 ia mendirikan Canting Hijau, sebuah brand yang mengusung satu konsep batik yang memiliki nilai-nilai art, earth, fashion, dan culture.

canting kemeja dan dress
Ket: Sarindi Naga Batik Dress dan Brown Gold Dragon Tail Batik Shirt

Misi Canting Hijau juga amat mulia. Dengan mengedepankan konsep sustainable, yaitu menghasilkan profit yang searah dengan dampak positif terhadap masyarakat dan lingkungan, mengutamakan pemberdayaan para pembatik di daerah, menyerap tenaga kerja dengan membayar upah yang cukup, dan tetap menjaga lingkungan dari kerusakan. Sebuah konsep yang diharapkan dapat membawa perubahan signifikan bagi dunia perbatikan Indonesia.

Cinta Batik, Cinta Bumi

Melestarikan batik menjadi salah satu dasar awal terbentuknya brand yang berbasis di Bandung ini. Untuk itu selain mempertahankan motif batik yang telah ada, Canting Hijau juga menciptakan motif batik tersendiri seperti Bhatara Kara, Kembang Jaipong, dan Wayang Cepot Bandung yang mengangkat kearifan lokal.

Sejalan dengan namanya produk yang dihasilkan Canting Hijau menggunakan bahan katun (organik) dengan mayoritas pewarnaan menggunaan pewarna alam. Konsep ‘zero waste production’ diterapkan dengan menghasilkan aksesoris batik dari limbah kain perca, dan ‘zero waste distribution’ dengan menggunakan kantong belanja yang terbuat dari kertas hasil daur ulang.

canting tas
Ket: Cindy Leather Batik Bag

Tidak Selalu Mulus

Dalam membangun usaha, tentu saja tak selamanya perjalanan yang ia alami berjalan lancar. Produk Canting Hijau yang berupa kemeja, dress, blouse, tas, dan aksesoris berbahan batik, pada awalnya dijual kepada saudara dan kerabat dekat. Selangkah demi selangkah pemasarannya juga dilakukan menggunakan social media. Hingga pada akhirnya ia memberanikan diri untuk mengikuti sebuah bazaar ternama dan menyewa booth dengan harga yang cukup mahal. “Barang kami dua hari pertama tidak terjual sama sekali karena salah target pasar. Kami sempat merasa down dan sangat kecewa,” tandas alumni Institut Teknologi Bandung jurusan teknik kimia ini.

Meski sempat rugi, namun hal ini tidak membuatnya menyerah. Setelah mengevaluasi dari kegagalan yang sebelumnya, mereka pun menemukan formula yang tepat untuk Canting Hijau. Strategi pemasaran online dan offline terus dijalankan. Produk-produk Canting Hijau dijual melalui pemeran-pameran offline, department store, dan secara online, salah satunya di Qlapa.com.

Mimpi Besar Canting Hijau

canting 2

Meski baru menginjak tahun kedua, namun Canting Hijau sudah mulai menorehkan namanya di ajang prestisius. Salah satunya adalah dengan bisa menampilkan karyanya dalam event Indonesia Fashion Week (IFW) 2017, sebuah ajang paling bergengsi di dunia fashion Indonesia.
Kebanggaan lainnya adalah saat Willy membawa Canting Hijau menjuarai sebuah perlombaan bersama sebuah brand susu dan Wirausaha Muda Berprestasi 2016. Ia pun berkesempatan terbang ke Seattle, Amerika Serikat pada bulan November 2016 untuk menjadi yang pertama menampilkan batik Indonesia pada acara Eco Fashion Week terbesar di dunia. Produk batik dari Canting Hijau yang ditampilkan dalam fashion show pada Eco Fashion Week tersebut mendapat sambutan yang sangat positif di mata warga Amerika dan Canting Hijau saat ini dapat ditemukan di salah satu butik di Seattle, Amerika Serikat.

canting 3

Ke depannya, Canting Hijau masih terus bekerja keras untuk mencapai misi besarnya, yaitu membangun perkampungan batik pewarna alam di tahun 2020 dan menyerap tenaga kerja hingga 200 orang untuk menunjang kebutuhan batik di Tanah Air maupun di tingkat Internasional. Sehingga dapat berkontribusi nyata terhadap perekonomian Indonesia.

Semoga!

TEST
duanyam produk750

Du’Anyam, Menganyam Mimpi Wanita di NTT

Menciptakan produk berkualitas & meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar adalah dua hal yang berusaha dibangun lewat brand Du’ Anyam.

 Sebagai salah satu kerajinan tradisional, anyaman memang sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Selain bahannya yang alami, produk turunan dari anyaman juga sangat banyak, contohnya saja tikar, keranjang, tas, dan lain-lain. Di beberapa daerah di Tanah Air, kemampuan menganyam bahkan diajarkan secara turun-temurun.

Salah satu daerah yang penduduknya memiliki kemahiran dalam menganyam adalah Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun sayang kerajinan ini sempat ‘terlupakan’ dan hanya ibu-ibu paruh baya yang memiliki kemampuan menganyam. Pada 2015, kerajinan menganyam ini kembali dibangkitkan oleh Hana Keraf dan kawan-kawan.

Berawal dari masalah sosial

Latar belakang Hana yang sempat bekerja di sebuah Non Government Organization (NGO) di NTT membuatnya cukup mengenal wilayah tersebut. Di sana ia menemukan bahwa masalah kesehatan pada ibu dan anak cukup memprihatinkan, bahkan di sana juga merupakan wilayah dengan kasus kematian ibu dan anak tertinggi. Hal ini dipengaruhi oleh rendahnya tingkat sosial ekonomi. Meskipun pemerintah dan beberapa NGO telah menggalakan program kesehatan gratis, nyatanya ada saja gap yang membuat masyarakat tidak bisa mengakses pelayanan kesehatan. Salah satunya adalah para ibu yang ternyata tidak memiliki uang cash untuk sehari-hari. “Untuk bisa berobat ke Puskesmas kan harus punya fotokopi KTP, nah mereka uang seribu rupiah aja untuk fotokopi nggak ada,” ujar Hana yang orang tuanya lahir di NTT.

Untuk menjawab masalah ini, dipilihlah model bisnis kewirausahaan sosial yang berkelanjutan. Hanna bersama dengan Azalea Ayuningtyas, Melia Winata, dan Zona Ngadiman membangun sebuah social entrepreneurship bernama Du’ Anyam.

Dalam bahasa Flores, Du’ berarti ibu, sehingga Du’ Anyam bermakna ibu yang menganyam.”

Du’ Anyam adalah sebuah kewirausahaan sosial yang mengusung peran aktif dalam mengatasi masalah kesehatan ibu dan anak yang terjadi di NTT. Lewat Du’Anyam, Hanna dan teman-temannya menggandeng para ibu dan wanita di daerah NTT untuk menganyam daun lontar sebagai satu alternatif pendapatan tambahan dari sekadar berladang.

Proses produksi di dua daerah

Duanyam1

Di lini produksi, Du’Anyam memiliki dua wilayah. Pertama di NTT sebagai pusat pengolahan raw material, kemudian Jakarta sebagai kantor utama dan tempat workshop. Bahan setengah jadi berupa hasil anyaman dikirim ke Jakarta untuk diolah menjadi ragam produk, seperti tas, souvenir, dan produk kerajinan lain berbahan daun lontar.

duanyam

Dari segi desain, meski menggunakan bahan alami namun produk yang dihasilkan Du’ Anyam bergaya modern dan tidak ketinggalan zaman. Hal ini juga berkat masukan dari tim Du’Anyam pada para ibu penganyam. Hana juga menambahkan, bahwa Du’Anyam tak ingin dikenal semata karena menjual kemiskinan dari NTT. “Kami ingin Du’Anyam dikenal karena memang kualitas dan desain produknya yang bagus.”

Hasil produksi Du’ Anyam sebagian besar dipesan oleh hotel-hotel, dan juga dijual secara online salah satunya di Qlapa.

Weaving A Better Generation

Meski tergolong bisnis sosial yang masih muda, namun kini Du’Anyam memiliki kurang lebih 300 ibu dan wanita penganyam dari 16 desa di NTT. Tentunya angka tersebut buah keringat mereka selama 4 tahun terakhir. Hal ini yang diamini Hanna sebagai sebuah achievement atas apa yang ia lakukan sejauh ini. Para ibu dan wanita kini sudah memiliki pendapatan lebih selain berkeringat di ladang pertanian. Di sela waktu, atau dalam kondisi mengandung, mereka dapat menganyam.

Namun, jauh sebelum semua itu tercapai, Hanna membagi sedikit ceritanya saat membangun Du’Anyam. Berbekal 16 pengrajin di tahun 2013, ia dan temannya terus melakukan inovasi serta mengedukasi para penganyam agar kualitas produk yang dihasilkan tetap terjaga. Dari 16 ibu-ibu pertama yang bergabung, hampir semuanya menginjak usia 40 tahun ke atas, dan kini semakin banyak perempuan muda menjadi pengrajin Du’Anyam. “Semakin banyak perempuan muda yang ikut. Walaupun tidak bisa menganyam, justru kita lebih senang. Kita ajarkan keahlian dasar ke mereka. Selain memberdayakan perempuan, In a way kita membantu pelestarian budaya.”

Dengan keberadaan Du’Anyam, perlahan keadaan ekonomi para ibu pengayam juga mengalami perbaikan.“Setelah penjualan pertama kami di bulan September 2015, peningkatan ekonomi ibu dan wanita cukup meningkat. Dari yang sebelumnya hanya bertani dengan pendapatan per tahun sekitar Rp6-8 juta, kini para ibu dan wanita bisa mendapat Rp100 ribu sampai Rp200 ribu per minggu,” tutur Hanna.

Duanyam 2

Tidak berhenti sampai di situ. Sebagian hasil dari penjualan produk pun digunakan untuk memperbaiki dan memenuhi kebutuhan pangan sehat para ibu dan anak. “Sebagian pendapatan mereka disisihkan untuk membangun kandang ayam contohnya. Itu bertujuan untuk memberikan nutrisi protein dari telur kepada para penganyam,” jelas Hanna.

Ia melanjutkan ceritanya. Perubahan lain yang dilihat seiring berjalannya Du’Anyam adalah perilaku para ibu yang kini mulai berubah. Mereka mulai berani bersuara karena sudah bisa lebih mandiri. Mendapat penghasilan lebih. “Kita lihat dari beberapa kasus, ibu-ibu kita sekarang jadi lebih percaya diri, lebih bisa mengambil keputusan untuk anak-anaknya, yang sebelumnya dipegang penuh oleh suaminya,” kata Hanna. “Weaving a better generation,” sambungnya.

Aspek Bisnis dan Sosial yang Sejalan

Duanyam 3

Saat ini ada 2 proyek yang dijalankan Du’Anyam, yakni project bisnis dan sosial, begitu mereka menyebutnya. Untuk bisnis sosial, mereka sedang menjalankan program peningkatan gizi untuk para ibu dan wanita yang menganyam. Jika mereka menganyam di Du’Anyam, sebagian pendapatan mereka akan disisihkan untuk pembangunan kandang ayam. Kemudian, mereka juga berkolaborasi dengan program pemerintah, seperti tabungan bersalin maupun pemberian makan tambahan.

Sementara untuk proyek bisnis, Hanna dan teman-temannya sedang memikirkan ekspansi ke daerah lain untuk produk anyamnya. Mereka melakukan kerja sama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk melebarkan sayap ke Papua, yang terkenal dengan anyaman kulit kayu. Pun juga bekerja sama dengan pihak lain untuk memperluas jaringan hingga ke Lombok.

“Dengan ekspansi ke daerah lain, kita akan punya hasil produk yang berbeda juga. Produk kita akan lebih banyak, gak cuma daun lontar. Karena daun lontar sendiri punya baik dan buruknya untuk beberapa desain,” tutur Hanna.

Selain itu, langkah bisnis di tahun 2017 ini Du’Anyam juga akan lebih fokus meningkatkan kolaborasi dengan brand-brand lokal di Indonesia dan mencoba untuk mengekspor produk ke Jepang.

Artikel lain yang mungkin kamu suka:

SemburArt, Solusi “Keberantakan” yang Penuh Seni

5 Brand Tas Kulit Lokal dengan Kualitas Terbaik

TEST
semburart2

SemburArt, Solusi “Keberantakan” yang Penuh Seni

Karena ide yang cemerlang kadang lahir sebagai jawaban atas dari sebuah masalah.

Semrawut dan berantakan. Dua kata itu mungkin terlintas di pikiran kamu saat mendengar kata seniman. Ya, mereka yang bergelut di bidang seni memang cenderung ‘urakan’ dari mulai soal gaya, hingga saat mereka bekerja. Terlebih bagi seniman yang harus membawa banyak peralatan banyak saat berkarya. Hal ini juga yang dirasakan oleh Nadjma Achmad yang berprofesi sebagai interior desainer, “Kalo seniman itu kadang bawa pensil, spidol, atau kuas kan banyak. Saking banyaknya itu jadi berantakan pas dibawa.”

Berangkat dari masalah ini, Nadjma kemudian memiliki gagasan yang dapat menjadi jawaban dari kendala tersebut. Alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya ini ingin membuat sebuah produk yang dapat memfasilitasi mereka yang bergerak di bidang arsitektur maupun seni.

 

Lahirnya SemburArt

semburart
Salah satu produk pertama yang ia hasilkan pada Oktober 2015 adalah pencil roll, atau tempat pensil gulung. Pada awalnya, Nadjma mengerjakan semuanya sendiri, mulai dari mencari bahan, desain, hingga mencari penjahit. “Dulu kita buat dengan kain linen dikombinasi dengan kain ber-pattern, tapi lama-lama mikir kok produkku pakai pattern orang ya,”. Saat memulai pertama kali, Nadjma bahkan belum memberi nama dan mempunyai logo untuk produknya. Pertemuannya dengan Lugu Gumilar, partner-nya kini di SemburArt, yang berprofesi sebagai graphic designer akhirnya membuahkan ide baru. Berawal dari sebuah celotehan, ia mengucapakan kata ‘semburat’ yang dalam istilah Jawa artinya adalah berantakan. Kemudian ia menggali lebih dalam menemukan kata ‘semburat’ yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti memancarkan cahaya; pancaran cahaya. “Sifat memancar itu kalau diasumsikan barang jadinya berantakan. Dari itu akhirnya kita setuju dengan nama SemburArt, karena produk kita untuk teman-teman seniman. Intinya sih kami ingin SemburArt ini menjadi solusi dari keberantakan, tapi juga punya nilai seni tesendiri,” pungkas wanita yang doyan hiking ini.

Tantangan membuat produk handmade

Proses Produksi _2

Dalam waktu kurang dari dua tahun, SemburArt telah memiliki sejumlah variasi produk, diantaranya tas, pouch, pencil roll, dan cable wrap. Semuanya dengan DNA yang terdiri dari kombinasi kain natural dan tali kepang. Pada awalnya, produk SemburArt mengambil bahan dengan warna jadi yang ada di pabrik. Namun belakangan beberapa warna yang diinginkan ternyata tidak konsisten dan terkadang discontinued. Untuk mengakalinya, kini Nadjma menggunakan teknik celup untuk pewarnaan. Hal ini juga tidak selalu berakhir sempurna, “Ya itu, kadang-kadang juga hasilnya nggak bisa sama persis. Serunya justru kita bisa nemuin warna yang lebih bagus dari sebelumnya. Maklum kan bikinnya handmade,” tambah Nadjma. Untuk satu koleksi, biasanya ia membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk pengerjaan mulai dari desain, pencelupan kain, proses washed (yang menjadikan kain terlihat belel), hingga penjahitan. Kesulitan lainnya yang ia alami adalah karena skalanya yang masih cukup kecil, ia masih menggunakan jasa penjahit lepasan. Hasilnya, beberapa koleksinya tidak bisa diselesaikan tepat waktu. Namun demikian, ia senantiasa menjaga kualitas produknya agar tidak mengecewakan. Dengan pilihan membuat produk handmade, Nadjma menyadari bahwa produknya tidak bisa dibuat massal, namun lebih menjadi collectible item yang sifatnya eksklusif.

Harus Tepat Sasaran

4.Pasarpasaran- Sunset Crafter 10 April 2016

Untuk melakukan pemasaran yang efektif, sedari awal memang target pasar harus ditentukan secara jelas. Karena lahir dari kecintaannya pada dunia seni, pemasarannya juga tidak jauh-jauh dari sana. Event offline pertama yang diikutinya adalah Art Market yang diadakan di Bali. Karena sudah menemukan target pemasaran yang jelas, di event pertamanya tersebut sekitar 95% produk yang dibawa laku dibeli pengunjung. “Yang menarik, banyak bule yang beli walaupun awalnya mereka bingung ini fungsinya apa. Cuma setelah dikasih tahu ini produknya handmade, mereka sangat mengapresiasi,” ujarnya. Selain mengikuti sejumlah event offline, SemburArt juga menjual produknya secara online, salah satunya di Qlapa.

Ingin melahirkan produk ramah lingkungan

Produk-Detail

Tak hanya cinta pada seni, Nadjma sendiri juga merupakan seorang pencinta lingkungan. Ia ingin produknya juga memiliki napas yang sama. Untuk itu, ia sebisa mungkin menggunakan bahan-bahan alami dalam produksinya. Meski belum bisa 100% menggunakan bahan alami, ia meminimalisir penggunaan plastik terutama untuk kemasan. Tak hanya mengurangi penggunaan bahan sintetis, ia juga memproduksi barang-barang turunan dari produk utama demi mengurangi limbah, seperti cable wrap yang berasal dari potongan kain sisa. “Sejujurnya saya kurang respect sama plastik, makanya saya ingin ini juga menjadi identitas dari SemburArt. Produk handmade yang ramah lingkungan,” imbuhnya.

Menjadikan produknya ramah lingkungan memang jadi salah satu misi yang diembannya ke depan. Di tahun keduanya ini, SemburArt juga punya goal untuk memberdayakan masyarakat. “Kami ingin membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat, sembari mengenalkan dan belajar lagi tentang desain ke masyarakat. Itu saja, sederhana ya?,” tutupnya.

TEST
cutiepootiedesigns-2

Cutie Pootie Designs, Menghidupkan Lagi Usaha dan Semangat Entrepreneur Lewat Mug Custom

”If you can dream it, you can do it!”

Itulah kutipan yang menjadi penyemangat Marcella ketika mulai mendirikan dan membesarkan Cutie Pootie Designs. Berdiri dari tahun 2014 sebagai pekerjaan dan sumber penghasilan tambahan, brand lokal yang awalnya membuat mug keramik custom ini kemudian berkembang hingga Marcella sendiri merasa yakin untuk menjadikannya sebuah pekerjaan full-time.

Kutipan di atas sendiri sepertinya cukup sesuai dengan kisah Marcella. Menjadikan usaha membuat dan menjual produk dan brand lokal sebagai pekerjaan full-time adalah hal yang menyeramkan dan berisiko, apalagi kalau sampai harus mengorbankan pekerjaan kantor yang lebih pasti. Namun kalau memang itu passion dan keinginanmu sejak awal, asal dibarengi dengan kerja keras, kamu juga pasti bisa menjadi sukses dengan produk dan brand yang kamu buat.

Berawal dari Masa Kuliah

cutiepootiedesigns-1

Sejak kecil, Marcella memang memiliki jiwa entrepreneur. Sebagiannya karena pengaruh lingkungan keluarga. “Karena pengaruh lingkungan keluarga besar yang kebanyakan wirausaha jadi secara tidak langsung mungkin dari kecil itu tertanam di kepalaku, apalagi kalau melihat ada keluarga usahanya bisa sukses dan maju,” ujarnya.

Namun sejak ia sendiri juga suka membuat prakarya kertas dari majalah Bobo dan kemudian ia jual ke anggota keluarga atau teman sekolahnya. “Mungkin dari sejak itu sebenarnya sudah ada keinginan untuk entrepreneur ya,” tambahnya.

Selain itu, ia juga senang membuat handcraft sendiri. Rasanya ada kepuasan tersendiri ketika barang buatannya jadi dan disukai oleh orang lain. Mungkin itulah yang juga membuatnya kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual.

Cutie Pootie Designs sendiri memang baru berdiri di tahun 2014, tapi konsep brand dan produknya sendiri sudah ada sejak Marcella duduk di bangku kuliah.

Idenya bermula ketika Marcella ingin memberikan hadiah ulang tahun yang unik dan tidak pasaran untuk orang tercinta, yaitu keluarga dan teman-teman. Dari situ, muncul ide untuk membuat desain yang unik dan dicetak di permukaan mug keramik.

Keluarga dan teman-teman yang menerima hadiah tersebut tentunya senang karena menerima hadiah yang unik. Namun yang mungkin tidak disangka, mereka juga ingin dibuatkan mug custom untuk dihadiahkan ke orang lain. Melihat karyanya bisa menghasilkan uang, ditambah dengan jiwa dan passion untuk menjadi seorang entrepreneur, Marcella akhirnya mendirikan Little Red Gift.

Pergi, Lalu Kembali Lagi

cutiepootiedesigns-4

Sayangnya, setelah lulus kuliah, ia tidak lagi melanjutkan usahanya tersebut. Alasannya mungkin cukup sering dilontarkan oleh mereka yang baru saja lulus kuliah. “Karena pikiran naif anak freshgraduate yang mau kerja dulu cari koneksi dan pengalaman, apalagi saat itu saya langsung ditawari pekerjaan di tempat saya magang ketika kuliah jadi sudah langsung semangat untuk bekerja setelah lulus kuliah.”

Marcella akhirnya memutuskan bekerja di perusahaan e-commerce di Jakarta sejak tahun 2010, sepenuhnya meninggalkan Little Red Gift yang ia dirikan ketika masih kuliah.

Bagaimanapun juga, karena dari sananya punya jiwa entrepreneur, ia akhirnya kembali “mengunjungi” usaha lamanya itu. Bersama suaminya, ia mendirikan Cutie Pootie Designs di tahun 2014. Idenya sama, yaitu membuat mug keramik custom dengan desain yang personal dan cocok dijadikan hadiah.

Dengan promosi melalui Instagram, Cutie Pootie Designs yang dikelola sebagai sambilan ketika sedang tidak bekerja ini mulai berkembang. Dengan semakin besarnya Cutie Pootie Designs, motivasi dan passion Marcella untuk menjadi entrepreneur juga semakin besar.

Ditambah dengan kondisinya yang saat itu baru melahirkan anak, ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan tetapnya, dan fokus mengelola Cutie Pootie Designs sejak bulan April tahun 2016 lalu.

“Dengan dorongan dari suami dan keluarga akhirnya saya mulai berani mengembangkan usaha sendiri, and it’s worth it!”

cutiepootiedesigns-5

Saat ini, Cutie Pootie Designs tidak cuma menjual mug keramik custom saja. Kalau kamu mengunjungi halaman toko Cutie Pootie Designs di Qlapa, kamu akan menemukan beberapa produk handmade lain seperti bantal dan juga pouch. Meskipun begitu, semua produk tersebut punya style yang khas, dan tentunya personal.

“Keunggulan kami adalah setiap desain berasal dari kami, bukan dari luar untuk tetap mempertahankan style Cutie Pootie, karena banyak juga tempat lain yang menjual mug/produk lainnya tapi desain bisa diambil dari customer atau internet,” tambah Marcella.

Hingga saat ini memang hanya Marcella sendiri yang mendesain gambar dan art yang ada di setiap produk Cutie Pootie Designs. Lalu untuk urusan packaging, produksi, dan admin dibantu oleh tiga orang lainnya.

Oh, satu saran terakhir yang diberikan Marcella menambah kata penyemangat ”If you can dream it, you can do it” di atas:

“Membangun sebuah brand/usaha bukanlah hal yang mudah. Banyak kerikil-kerikil mulai dari yang kecil sampai besar yang harus dilalui, dan tidak jarang membuat putus asa. Namun dengan berbagai pengalaman itu, justru aku belajar banyak untuk mengembangkan Cutie Pootie lebih baik lagi.”


Kalau kamu tertarik dengan mug custom lucu buatan Cutie Pootie Designs, langsung saja mengunjungi halaman Cutie Pootie Designs di Qlapa.

TEST
dalivanpicasso-6

Di Balik Produk Uniknya, Ada Banyak Cerita dan Pelajaran Berharga dari Dalivanpicasso

Dunia ini terlalu membosankan kalau yang kita lakukan tiap hari cuma melakukan hal yang sama tanpa mencoba, mendengar, melihat, atau belajar sesuatu yang baru. Go out there! Carilah sesuatu yang baru yang menarik perhatianmu dan bisa membuatmu belajar tentang luasnya dunia, paling tidak duniamu sendiri. Ada sangat banyak hal yang bisa kamu temukan di luar sana dan menunggumu.

Itulah satu dari beberapa hal yang saya pelajari dari Vincent Anthony, pendiri Dalivanpicasso. Jauh sebelum ia mulai membuat pin bergaya piksel dan menjadikannya produk handmade unik dan keren seperti topi snapback, gulungan charger atau earphone, dan juga casing smartphone, Vincent yang saat ini berusia 24 tahun punya banyak hal keren yang bisa diceritakan. Yes, tentunya termasuk bagaimana Dalivanpicasso yang ia dirikan terbentuk (karena itu saya menulis artikel ini).

Seriously, dude’s awesome, dan saya sendiri juga belajar banyak hal dari ceritanya.

Dimulai dari Menjelajahi Berbagai Macam Hal

dalivanpicasso-2

Sejak awal, Vincent memang suka mengenal dan mempelajari hal baru yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Itu jugalah yang menjadi alasannya mendalami bidang seni dan kuliah di jurusan DKV. Ia juga suka dengan hal-hal yang tidak biasa dan unik. Itulah yang membuatnya suka dengan hampir semua jenis karya seni mulai dari lukisan yang super klasik sampai video modern. Itu jugalah yang membuatnya sering berkunjung ke galeri seni dan art space.

Tapi tidak cuma sampai di situ, ia juga selalu berusaha mendalami tiap karya seni yang dilihatnya.

Art itself have been created primarily for aesthetic and intellectual purposes and judged for its beauty and meaningfulness. Inilah yang membuat saya mengembangkan cara berpikir saya untuk mencoba mengerti dan menebak cara pandang atau apa yang ada dipikiran seniman dalam membuat sebuah karya mereka yang ditampilkan. Tujuannya untuk mendapatkan satu pandangan tersendiri dari sisi seniman tersebut,” ujarnya menjelaskan kesukaannya terhadap karya seni.

Kesukaannya, dan juga caranya mendalami karya seni membuat Vincent selalu berusaha untuk punya pemikiran yang berbeda dari pemikiran umum.

Tapi kebiasaan Vincent untuk mempelajari hal baru, mencari tahu sudut pandang segala sesuatu yang unik yang ditemukannya tidak cuma berhenti di karya seni saja. Semenjak menyaksikan video seseorang yang melakukan backpacking ke berbagai tempat, ia menjadi terpicu untuk melakukan backpacking. Alasannya bukan karena ikut-ikutan atau supaya terlihat keren. “Saya suka membuka diri dan cara berpikir saya dengan menerima cerita atau pandangan hidup dari orang lokal yang saya temui ketika backpacking. Ini sangat berpengaruh untuk melihat cara padang yang berbeda karena hidup ini terlalu sempit dilihat dari sisi pandang kita sendiri.”

And that’s what he did. Tiap kali melakukan backpacking, Vincent selalu memilih untuk tidak membuat itinerary atau rencana perjalanan sama sekali. Bukan cuma sekedar rencana “mau ke mana”, tapi sampai tempat tinggal tidak pernah ia rencanakan. Ia lebih memilih untuk menginap di rumah penduduk lokal. “ Tujuannya agar saya bisa mendengar cerita dan pengalaman hidup mereka, mempelajari budaya dan tradisi mereka, dan cara berpikir mereka. _ Plus I love to meet strangers.”

dalivanpicasso-3

Ia sendiri memang baru berkunjung ke beberapa tempat saja, yaitu Yogyakarta, Malaysia, dan Thailand. Tapi dari semua perjalanannya itu, ia selalu mendapat pengalaman menarik dan tentunya pelajaran yang sangat berharga dari orang-orang yang ia temui dan ajak ngobrol. Di Yogya, misalnya, ia ditemani berkeliling oleh teman yang awalnya adalah orang asing dan literally baru ia temui saat itu.

Di sana ia mendapat kesempatan untuk ngobrol dengan salah satu Abdi Dalam di keraton Yogya, dan tentunya saling bertukar cerita dan mendapat nasihat berguna. “Hal yang paling berkesan adalah ketika saya bertanya seperti apa pengertian sukses di matanya, ia menjawab ‘sukses adalah ketika masa lalumu bisa membuatmu tersenyum saat mengenangnya kembali,’” ujarnya.

Masih banyak lagi cerita-cerita dan pengalaman menarik yang ia peroleh dari perjalanannya, termasuk nekat pergi ke luar negeri sendirian tanpa melapor orang tua, menggunakan pesawat internasional di tengah isu keamanan penerbangan internasional tiga tahun lalu, harus memutar otak untuk lolos dari interogasi petugas bandara, sampai berkelana sendirian di luar negeri hanya dengan modal peta yang diambil dari hostel.

But you got the point. Traveling bukan hanya sekedar datang ke suatu tempat, melihat-lihat, memotret berbagai macam lokasi yang menjadi landmark, lalu memperlihatkannya di Instagram. There’s much more than that kalau kamu memang mau menjelajahi lebih jauh lagi, dan berinteraksi satu sama lain dengan orang-orang yang ada di sana.

Anyway, itulah sedikit mengenai Vincent. Dude’s crazy, but awesome at the same time. Crazy awesome? Sort of.

Keluarga Baru Sebelum Dalivanpicasso

dalivanpicasso-4

Saat ini, Vincent masih bekerja full-time sebagai Creative & Art Director di sebuah agensi di Jakarta, dan menjalankan Dalivanpicasso sebagai sampingan pretty much hanya berdua dibantu adik perempuannya yang mengurus transaksi dan administrasi. Tapi Dalivanpicasso sendiri baru berdiri di bulan November tahun lalu. Sebelumnya, di samping travelling, ia juga sempat mencoba merintis usaha lain bersama lima seniornya ketika bekerja di sebuah kantor yang bergerak di bidang retail di Jakarta.

Karena masalah internal, Vincent dan tiga seniornya yang bekerja di kantor yang sama berhenti. Berlima, mereka ingin mencoba mendirikan usaha sendiri. Awalnya, ide usaha mereka adalah membeli ilustrasi, doodle, atau karya lokal lain yang mereka anggap bagus, kemudian dijadikan produk dalam bentuk yang berbeda. “Motivasi kami pada awalnya ingin membangun sebuah komunitas bagi para seniman, khususnya ilustrator yang kebanyakan anak muda. Mereka layak dihargai sama dengan ilustrator di luar negeri, dibayar dengan harga yang benar, dikenal oleh masyarakat, dan memberikan edukasi seni itu seperti apa.”

Ide mereka tentunya memakan biaya yang tidak sedikit. Tapi mereka ingin mencari modal itu dari usaha mereka sendiri, bukan dari investor. “Ini merupakan perusahaan yang kita iseng pengen coba dan mengerti untuk kami sebagai orang muda ingin memulai usaha,” ujarnya. Karena itu, untuk mengumpulkan modal usaha, mereka membuat jasa promosi, logo, website, dan app interface ke klien/perusahaan yang ingin dibantu. Targetnya, dalam setahun mereka sudah bisa menutupi modal dan biaya usaha utama mereka melalui jasa ini.

Sayangnya, setelah setahun, mereka cuma bisa mengumpulkan setengah dari jumlah yang mereka perlukan. Tapi tak satupun dari faktor kegagalan mereka berasal dari pertikaian diantara salah mereka berlima. Malah, dari usahanya berlima, ia juga mendapatkan banyak hal yang berharga.

“Sampai sekarang setiap dari kita saling support. Mereka sudah seperti keluarga bagi saya, apalagi saya yang paling kecil. Saya juga berterimah kasih karena mereka sudah menjadi senior, teman, mentor, and advisor untuk saya. Kami sudah berpisah, beberapa dari mereka sekarang sudah menikah punya anak, beberapa masih mengejar karir, dan saya juga mengejar impian saya. Tapi hubungan kami masih berlanjut dengan sangat baik dan saya boleh katakan erat!”

“Apa yang saya pelajari dari mereka sangat banyak, dari segi skill mereka mengajarkan saya editing, Photoshop, Illustrator, fotografi, marketing, promosi, sales, dan masih banyak lagi. Tapi yang paling berharga adalah pelajaran hidup, bagaimana mereka mengatasi masalah, apa itu artinya sebuah senyuman dan kegagalan, apa artinya kekeluargaan dan kebersamaan. Salah satu dari mereka juga pernah mengatakan ‘Just go for it and give it a try! You don’t have to be a professional to build a successful company. Amateurs started Facebook, Snapchat, Google and Apple. Professional built the Eiffel tower.’”

Dalivanpicasso

dalivanpicasso-5

Di sela-sela mencoba menjalani usaha tersebut, Vincent juga sering mengikuti berbagai lomba, baik itu lomba desain atau non-desain. Dari situ, ia iseng mencoba berkreasi, membuat sebuah pin berbentuk karakter lucu bergaya pixel yang dibentuk dengan plastik akrilik berukuran kecil. Awalnya, pin ini ia buat hanya untuk diri sendiri, untuk bergaya dan dipamerkan ke teman-temannya. Melihat saat itu snapback sedang populer, ia memutuskan untuk membuat pin tersebut menjadi emblem untuk topinya.

Ketika mencoba memakai topi tersebut saat hangout dan kegiatan lainnya, banyak temannya yang suka dan tertarik dengan topi tersebut. Dari situ, dengan uang yang ia sudah simpan sebelumnya sebelumnya, dan berbagai macam inspirasi yang ia jumpai di internet, ia ingin mencoba menjadi entrepreneur. Ia juga cukup yakin bahwa topi dengan emblem unik yang ia miliki ini adalah produk yang cukup unik dan sulit ditemui di pasaran. Dengan keunikan tersebut, ia berharap siapapun yang memakainya bisa percaya diri dan tampil beda, memperlihatkan siapa diri mereka sebenarnya. “Kami ingin Dalivanpicasso menjadi partikel “ego” Anda, untuk mewujudkan keunikan dari setiap karakter snapback.” Well, sedikit banyak mencerminkan kepribadiannya sebagai individu.

Sejak itulah usaha pertama yang ia rintis sendiri berdiri, dan ia beri nama Dalivanpicasso, gabungan dari tiga seniman yang sangat ia sukai: Salvador Dali, Vincent Van Gogh, dan Pablo Picasso.

Meskipun masih baru, Dalivanpicasso sendiri cukup berkembang. Kalau awalnya Vincent hanya membuat dan menjual topi snapback, sekarang ia juga punya koleksi casing smartphone dan juga gulungan kabel earphone atau charger. Tema untuk topi yang ia buat juga semakin beragam, dari yang awalnya hanya karakter hewan, sekarang juga merambah ke karakter-karakter Marvel, DC Comics, dan beberapa karakter populer lainnya. Ia berharap ke depannya Dalivanpicasso sendiri tetap berkembang dan menjadi contoh untuk masyarakat, khususnya anak muda.

“Anda tidak harus memiliki modal yang sangat besar untuk memulai suatu usaha, yang paling penting adalah hanyalah sebuah sudut pandang ide yang berbeda,” tutupnya.


Kalau kamu tertarik dengan produk-produk handmade unik dari Dalivanpicasso, langsung saja kunjungi halaman Dalivanpicasso di Qlapa.

TEST
radusa-1

Radusa, Mewujudkan Hobi Desain Menjadi Sebuah Produk Handmade yang Unik dan Khas

Membuat brand dan produk sendiri mungkin adalah hal yang sulit. Salah satu tantangan yang cukup berat dan mungkin membuat takut adalah kenyataan bahwa kamu harus bersaing dengan begitu banyak brand dan produk lain yang ada di luar sana. Belum lagi beberapa diantaranya adalah nama-nama besar yang sudah terkenal di seluruh dunia.

Tapi sebagai pengrajin yang membuat produk handmade, bukan berarti kamu sama sekali tidak punya tempat di luar sana. Selama produk yang kamu buat punya ciri khas dan keunikan tersendiri, kamu harusnya percaya diri dengan produk yang kamu buat, apalagi kalau produk itu adalah hasil desainmu sendiri. Itulah yang diyakini dan memang terjadi pada Radusa, brand yang dibuat sendiri oleh Achdiat Farid Ranreng Duraesa dan saudaranya, Zulfanahri Ranreng Duraesa.

Memanfaatkan Kesempatan di Bandung

radusa-3

Sejak masih duduk di bangku SMP di daerah asalnya Samarinda, Farid memang suka dengan desain. Ia sering mencoba membuat berbagai macam desain terutama desain produk fashion. Di tengah menjalani hobinya itu ia selalu penasaran apakah ia bisa membuat desain-desainnya menjadi sebuah produk yang nyata.

Sayangnya, melihat kondisinya saat itu, ia merasa keinginan tersebut sangat sulit untuk diwujudkan. Setelah lulus dari SMA, dengan berbagai macam pertimbangan, ia memutuskan untuk berkuliah di Universitas Padjajaran Bandung dan mengambil jurusan hukum, khususnya hukum kekayaan intelektual. Tapi bukan berarti Farid benar-benar membungkan niatnya untuk membuat produk hasil desainnya sendiri. Ia akan segera mencobanya jika diberi kesempatan yang tepat.

Well, kesempatan itu sendiri muncul begitu ia berkuliah di Bandung. Di kota ini ia melihat ada sangat banyak peluang yang bisa ia manfaatkan. Berbagai macam bahan baku yang ia perlukan untuk membuat produk sendiri bisa ditemukan dengan mudah dan dalam jumlah serta variasi yang cukup banyak. Melihat semua itu, ia tidak ragu untuk kemudian mencoba membuat produk dan juga brand buatannya sendiri.

Untuk membantunya, Farid mengajak saudaranya Zulfa yang sedang berkuliah di jurusan sistem informasi UGM untuk bergabung. “Kami rasa kalau berdua bisa saling membantu, dan berdua saja sudah cukup, karena memang kami gak mau banyak oran. Kalau banyak orang pasti akan lebih banyak konflik,” Farid menjelaskan. Karena didirikan oleh dua bersaudara, mereka memberikan nama brand mereka Radusa, yang diambil dari singkatan nama belakang mereka.

radusa-2

Untuk ide produk pertama, dari berbagai macam pilihan produk yang bisa dibuat, keduanya memilih untuk membuat tas handmade. “Tas itu gak perlu ukuran kayak baju hehehehe, kedua karena tas itu bisa di variasikan dengan bahan lainnya seperti kayu, tali, dan motif traditional,” ujarnya.

Dan memang benar itu yang digunakan untuk konsep dasar Radusa. Farid ingin mengusung perpaduan antara gaya modern, budaya, dan juga sentuhan alam. Untuk itu, kebanyakan model tas handmade dari Radusa mengandalkan perpaduan bahan dasar polyester yang mewakili gaya modern, kayu yang mewakili sentuhan alam, dan terakhir kain motif khas Indonesia untuk sentuhan budayanya. Gabungan ketiga elemen tersebut membuat tas-tas dari Radusa terlihat unik dan ciri khas yang tidak akan kamu temukan di tempat lain.

Keunikan dan ciri khas produk tersebut ternyata menjadi salah satu hal yang membuatnya percaya diri untuk memperlihatkan dan menjual tas-tas handmade Radusa di mata banyak orang. “Asal punya ciri khas dan identitas kuat saya rasa [siapapun] siap untuk menghadapi persaingan dengan brand lain.” Ia juga menambahkan bahwa persaingan bukanlah sesuatu yang buruk. “Menurut saya persaingan ini adalah pemacu supaya kita semakin kreatif dan inovatif dalam mengembangkan produk.”

Hebatnya, kedua saudara ini masih bisa berkoordinasi dengan baik meskipun terpaut jarak yang cukup jauh. Masing-masing selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi secara online, dan sesekali bertemu secara langsung. Technology yo!

Setelah setahun lebih berdiri, Radusa sekarang terdiri dari tujuh orang, yaitu dua orang desainer, empat orang pengrajin, dan satu orang yang menangani transaksi. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan berbagai macam toko serta beberapa situs e-commerce.

Sulitnya Memperluas Jangkauan

radusa-4

Seperti halnya pengrajin lain, Farid berharap industri handmade di Indonesia semakin maju. Ia juga berharap pemerintah semakin memperhatikan perkembangan industri handmade dengan berbagai macam cara, mulai dari memberikan modal, serta membuka kesempatan untuk hadir di berbagai macam pameran, baik itu skala nasional maupun internasional.

Tapi di samping itu, sebagai mahasiswa hukum, Farid juga mengharapkan satu hal yang jarang saya dengar dari pengrajin lain, yaitu mereka ulang berbagai macam kebijakan terkait industri kreatif seperti perlindungan hukum merek dan hak cipta. Ia merasa masih hukum terkait hal-hal ini masih punya banyak celah, dan ia sendiri melihat/mengalaminya secara langsung.

“Kami pernah ditipu pihak toko yang diajak kerja sama Produk kami dibawa lari dan gak ada kabar. Lalu ada juga toko di luar kota yang susah dihubungi padahal udah ada surat kerja sama yang jelas. Ironisnya, si pemiliki toko sendiri juga sebenarnya mahasiswa hukum, jadi harusnya ngerti tentang hukum perjanjian,” ingatnya.

Tapi itu baru contoh kecil, ia juga pernah mendapat pengalaman buruk yang benar-benar merugikannya atau melibatkan organisasi besar yang harusnya bisa diajak bekerja sama dengan baik. “Kami pernah kerja sama dengan toko di Bandung. Setelah membuat dan mengirim banyak stok produk ke mereka, ternyata perjanjiannya dibatalkan secara sepihak. Akhirnya banyak produk yang berlebih dan ada juga yang rusak, padahal untuk memenuhi permintaan mereka kami harus berhutang ke orang lain.”

“Terakhir, ia pernah bekerja sama dengan salah satu e-commerce di Indonesia. Karena menggunakan sistem warehouse, mau tidak mau Radusa harus mengirim sejumlah stok produk tas handmade mereka ke sana. Tapi laporan penjualannya kacau dan gak lancar. Lalu produk yang gak laku juga dikembalikan dalam keadaan jamuran.” Karena kejadian itu, kami akhirnya lebih berhati-hati ketika bekerja sama dengan pihak manapun, dan lebih memilih marketplace online jika ingin bekerja sama dengan situs e-commerce atau jual beli online.

Tapi meskipun begitu, Farid tetap yakin bahwa industri handmade saat ini sedang mengarah ke sisi yang positif, alias terus berkembang. Ia sendiri berharap Radusa ke depannya bisa terus berkembang dan mendapat kesempatan untuk hadir di pameran bertaraf internasional atau di luar negeri.


Kalau kamu tertarik dengan tas handmade keren buatan Radusa, langsung saja mengunjungi halaman Radusa di Qlapa.

TEST