Unik, Indonesia Loh Andalkan Desain dan Jargon yang Indonesia Banget!

Makin suburnya lahan industri kreatif di Indonesia memang membuat banyak brand lokal tumbuh bermunculan. Oleh karenanya setiap brand lokal sedianya memiliki ‘jiwa’ yang membuat produknya berkarakter dan mudah diingat oleh masyarakat.

Hal ini sangat disadari oleh Millaty dan Ursula Tumiwa dari brand Indonesia Loh. Berdiri sejak 2012, pertemuan dua wanita yang sama-sama bekerja di industri kreatif ini sebenarnya tidak terduga. Ursula atau yang akrab disapa Ula merupakan seorang produser film dokumenter, sementara Millaty bekerja di sebuah advertising agency bertemu pada sebuah proyek film. Obrolan keduanya pun berlanjut hingga terlahirlah brand Indonesia Loh!, yang identik dengan desainnya yang unik dan seperti namanya, Indonesia banget. Simak obrolan Qlapa dengan dua wanita di balik brand yang berbasis di Jakarta ini!

Tim Indonesia Loh
Tim Indonesia Loh

Halo Mbak Ula dan Mbak Milla, dari seorang produser dan pekerja industri kreatif, kenapa akhirnya memutuskan membuat brand ini?

Ula: Jadi sebenarnya aku sudah punya usaha tas sendiri. Bareng temen temen, aku bikin usaha tas tapi lebih generik, lokal, dan berbahan serat alam anyaman. Kemudian ketemu Milla yang kebetulan lagi bosan di pekerjaannya. Karna dia biasa bikin tulisan yang lucu dan kreatif. Akhirnya tercetuslah ide ‘yuk bikin produk tas anyaman yang lebih spesifik. Biar nanti bisa lebih tematik lah koleksinya’. Akhirnya dari situ bergabunglah kita.

Lihat juga: Senang Warna-warna Cerah? Batik Cirebon Pas Untuk Kamu

Apa produk awal yang dibuat oleh Indonesia Loh?

Milla: Di Indonesia kan banyak tempat destinasi wisata, ada destinasi outdoor, ada diving, naik gunung, terus nama destinasinya kan juga unik. Kita bayangin untuk bikin nama destinasi itu ditulis di tasnya dengan cara dibordir. Akhirnya tema pertama kita adalah seri I Love Diving.

Indonesia Loh

Ula: Seri yang pertama kita adalah yang destinasi, setelah itu kita bilang ‘eh orang Indonesia kan slogannya unik unik tuh’, seperti ‘kalau belum makan nasi, ya artinya belum makan’. Akhirnya dibuatlah seri Saya Suka Nasi. Nah ini penjualannya lumayan banget dan sampai sekarang masih laku juga.

Kenapa dalam membuat sebuah koleksi dibuat menjadi satu rangkaian?

Ula: Sebenernya lebih ke diversity produk sih dan strategi marketing juga. Tapi kita tetep lihat kita bergeraknya dimana yaitu di house ware. Kalo kita hanya bergerak di satu jenis produk kayanya susah deh. Karena berkembang terus juga permintaannya.

 

Sekarang kan isu plagiatisme masih marak, dan banyak desain-desain yang ditiru, apa ada acara mencegahnya atau menghadapinya?

Ula: Sebenernya design pun generic dan kita baca juga kan bahwa “idea is never be born by itself” Karena pasti meng-copy dan dijadikan referensi. Menurut aku kalau Indonesia Loh design-nya genuine, soul-nya kan ada disitu, kalau emang ada yang buat juga, kita sih percaya rejeki ada bagiannya masing masing. Jadi kalaupun di-copy masa sih sesama pencipta idenya di-copy sampai bener bener persis sama, apalagi kalau kita sama sama dari local designer dari Indonesia. Jadi referensi gak apa apa, tapi masa sih tega banget di-copy persis?

Baca juga: Gunakan Sampah Karung Bekas, Produk Gunagoni Malah Dicari

Milla: Kita sudah punya konsep, kita cerita tentang Indonesia, kalau misalnya ada yang meng-copy, kita nggak takut, karena kita lebih kreatif.

Ngomong-ngomong, waktu pertama kali Indonesia Loh akhirnya launching, di mana pertama jualannya?

Ula: Karena sebelumnya kita udah lama juga bergerak di bidang ini, ya kita beruntung sudah ada outlet-outlet yang mau kerjasama dengan kita, jadi beberapa udah ada, nah mulainya dari situ tapi berjalan dengan adanya teknologi online kita mulai mencoba di Instagram kita mulai coba.

Sejauh ini sudah berjalan selama 5 tahun ya?

Milla: Kita launching di Februari 2012, terus punya toko di tahun 2013 sampai 2014. Terus abis itu udah mulai gencar online. Kita merasa pengeluaran (toko) besar banget dan nggak efisien. Akhirnya toko kita tutup, terus kita kesini ya mulainya dengan online.

INDONESIA LOH 4

Jadi sejak kapan mulai terjun di online?

Baru tahun laiu. Jadi kita baru melihat bahwa ternyata efektif banget, dan ditambah lagi e-commerce seperti Qlapa yang sangat membantu. Tapi sebagiannya yang lain tetep di outlet.

Senang Warna-warna Cerah? Batik Cirebon Pas Untuk Kamu

Total tim ada berapa dan seperti apa pembagian kerjanya?

Milla: Tim inti ada 3, berempat sama accounting tapi dia ngurus lebih ke pembukuan, pajak pajak, ula lebih ke marketing, mila ke produksi, terus yuli lebih ke admin dan produksi.

Apa mimpi Indonesia Loh dalam lima tahun ke depan?

Milla : Indonesia Loh lahir di zaman modern, punya barang tapi nggak mesti ada tokonya. Kita dulu punya toko, tapi (penjualannya) nggak seperti yang kita harapkan. Sekarang justru dengan banyaknya online itu lebih tinggi dibanding kita punya toko.

Ula: Kita pinginnya lima tahun lagi punya toko tapi ga nyewa, jadi ngegantiin Pasaraya gitu. Tapi nggak mau nyewa. Sekarang sih kita udah happy karena lebih banyak orang yang tau Indonesia Loh, sudah banyak beredar nggak cuma di Jakarta, Bali, Surabaya, Medan sudah banyak yang pakai produk Indonesia loh.

TEST

Belajar dari Youtube, Sinau Akasha Hasilkan Produk Kayu Berdesain Unik

Ruang kelas bukanlah satu-satunya tempat untuk menimba ilmu. Lewat internet, kini beragam produk lahir dari tangan-tangan mereka yang belajar secara otodidak.

Apa yang terjadi saat tiga sahabat yang memiiki profesi pengacara, chef, dan karyawan swasta bertemu? Ya, beragam hal memang bisa terjadi, namun siapa sangka jika salah satu hasilnya adalah produk olahan kayu berupa aksesoris, notebook, hingga tatakan handphone? Adalah Sinau Akasha Indonesia, brand asal Jakarta, hasil kolaborasi Adam dan kedua orang sahabatnya yang berdiri sejak 2016.

Diambil dari bahasa Jawa, Sinau artinya belajar, dan Akasha artinya angkasa. Jadi artinya kurang lebih, belajar setinggi-tingginya. Brand Sinau Akasha sedianya merupakan sarana belajar dari ketiga pendirinya untuk belajar hal baru, di luar bidang pekerjaannya.

Baca juga: Gunakan Sampah Karung Bekas, Produk Gunagoni Malah Dicari

 

“Jadi awalnya di awal tahun 2016, saya sama dua dan dua teman SMA saya ngeliat suatu mesin di kick starter. Mesin laser cutting tapi terinstegrasi sama cloudnya Apple. Kita pengin beli mesin itu. Tapi karena di distribusikannya masih cukup lama, kita pingin buat produk seperti itu tapi tanpa mesin itu jadi manual. Akhirnya munculah ide untuk membeli laser cutting,” ujar Adam Kris, salah seorang pendiri Sinau Akasha Indonesia.

Produk Hasil Belajar dari Youtube

Kalung dari Sinau Akasha
Kalung dari Sinau Akasha

Jika melihat desain dan produk jadi dari Sinau Akasha, mungkin tak banyak yang menyangka jika produk tersebut merupakan hasil dari pembelajaran otodidak para pembuatnya. Namun itulah faktanya. “Langkah pertama kita tentuin mau buat apa dulu? Misalnya notebook dan bahannya mau dari kayu atau akrilik? Setelah itu baru lihat untuk buat ini seperti apa caranya. Itu semua kita pure lihat dari Youtube dan kita belajar otodidak, urai pria kelahiran Jakarta,  17 Januari 1991 ini.

sinau notebook

Beberapa produk yang jadi andalan dari Sinau Akasha diantaranya adalah anting, kalung, aksesoris handphone, hingga notebook. Dengan modifikasi desain etnik dan modern minimalis. Sedangkan untuk material produk, kebanyakan mengambil dari sisa kayu bekas furnitur. “Tujuan awalnya memang hanya ingin buat produk dari kayu bekas. Setiap kayu bekas di manfaatkan. Serpihan kayu bekas ini bisa kita manfaatkan jadi intinya memanfaatkan barang-barang yang tidak terpakai,” tuturnya.
sinau anting

Beberapa pengrajin dari Sukabumi, Tangerang, hingga Pasar Minggu biasanya jadi penyedia bahan Sinau Akasha. Namun untuk order dalam jumlah banyak, ia terpaksa mengandalkan papan besar seperti triplek yang kemudian dipotong tipis.

Masih ‘mencuri-curi waktu’

sinau

Menyeimbangkan dunia kerja dan wirausaha memang tidak mudah. Tak heran jika Adam dan kedua temannya kesulitan untuk membagi waktu. Mereka membagi peran, dengan Adam memegang desain dan quality control produk. Dan dua temannya di operasional mesin, sosial media, dan marketing. Dibantu dengan orang freelancer di sisi operasiona, dalam satu bulan, Sinau Akasha bisa membuat produk dari 50-75 buah.

Lihat juga: Senang Warna-warna Cerah? Batik Cirebon Pas Untuk Kamu

Namun tak jarang mereka ‘keteteran’ saat menangani order terutama dalam jumlah banyak. “Contohnya Kementrian Perindustrian mereka pesan plakat kayu dalam jumlah banyak, dan kita ga punya banyak waktu untuk menyelesaikan itu. Akhirnya kita harus gantian mengerjakannya,” imbuh Adam.

Karena sifatnya ‘part time’ menjual produk secara online juga dirasa lebih nyaman, karena bisa dilakukan di mana saja. Qlapa menjadi salah satu tempat yang dipilih Sinau Akasha untuk berjualan produknya. Dalam lima tahun ke depan, Adam berharap Sinau Akasha bisa berkembang dan bahkan menambah perusahaan yang tak hanya berfokus di kayu saja.

TEST

Gunakan Sampah Karung Bekas, Produk Gunagoni Malah Dicari

Melihat tumpukan karung kedelai yang tak terpakai rupanya menumbuhkan rasa ‘gatal’ di diri Andreas Bimo Wijoseno. Dari tangan kreatif pria yang akrab disapa Wijo ini, lahirlah Gunagoni, sebuah brand yang mengandalkan karung goni sebagai bahan utamanya.

Keberadaan sampah kerap kali dipandang sebelah mata. Padahal belum tentu sesuatu yang dianggap sampah tak punya nilai jual. Hal ini telah dibuktikan oleh Wijo yang telah menjual hampir 50 pcs produk berbahan utama karung goni di Qlapa. Simak obrolan kami dengan pria kelahiran 6 Februari 1974 ini seputar brand yang berbasis di Sleman, Yogyakarta ini.

Andreas Bimo Wijoseno, owner Gunagoni
Andreas Bimo Wijoseno, owner Gunagoni

Mas Wijo, ceritakan dong bagaimana awalnya membuat brand Gunagoni?

Saya hobinya jalan-jalan ke pasar tradisional. Saat itu saya lihat ada tumpukan goni. Awalnya saya beli aja gatau mau buat apa karena murah. Lalu suatu saat ada temenku yang punya tas dari goni terus rusak. Saya coba perbaiki, ternyata bisa. Akhirnya dia sarankan saya untuk membuat tas dari goni.

Baca juga: Senang Warna-warna Cerah? Batik Cirebon Wajib Kamu Miliki

Apa saja jenis produk yang dihasilkan Gunagoni?

Saat ini kita ada tas ransel, tas selempang, topi, pouch, dan notes book.

Kapan usaha ini dimulai?

Kira-kira pada April tiga tahun yang lalu.

Dari mana Mas Wijo belajar mengolah karung goni menjadi tas dan produk lainnya?

(Saya belajar) otodidak sambil ketemu, dadakan aja. Untuk mengukur saja saya nggak pakai meteran, hanya berdasarkan jari saya, karena kalau pakai meteran saya sering lupa. Selain itu saya sering nonton penjahit juga. Bagaimana caranya hanya tinggal lipat dan jahit, sebisa mungkin jangan sampai bikin sampah lagi.

Baca juga: Buat Sendiri Yuk! DIY Ombre Sneakers

Ngomong-ngomong, apa arti di balik nama Gunagoni?

Gunagoni artinya (meng)guna goni, bekas kembali berarti

Apa sih tantangan dari membuat produk berbahan bekas seperti karung goni?

Tantangannya itu rasa malas. Hahaha. Goni harus dicuci dulu karena itu sampah. Menjahitnya berat. Saat dijahit kadang nyangkut di mesinnya. Jadi kalau saya lagi nggak semangat mending nggak saya jahit. Karena nanti malah rusak semua.

jahit

Apa saja produk yang dihasilkan Gunagoni saat ini dan berapa range harganya?

Ada tas, notes, dan topi juga. Harganya lima puluh sampai dua ratus ribu rupiah.

Dalam sebulan berapa rata-rata produk yang dihasilkan?

Kira-kira maksimal 2,5 lusin. Karena cuma saya sama istri saya berdua yang mengerjakan. Istri saya pasang kancing atau aksesoris. Kalau cuci-cuci (karung goni) berdua sama istri. Yang jahit saya sendiri. Karena belum ada yang mau bantuin.

Baca juga: Bangkit dari Krisis, Sunaka Jewelry Raup Omzet Hingga Rp 400 Juta Perbulan

Wah ternyata cukup sulit ya mengolahnya. Lantas kalau bagian menyenangkan dari membangun brand ini?

Saya senang, ada keset naik kelas. Ada keset ditaro di kepala, jadi tas. Selain itu saya senang karena di sini saya nggak mau mengikuti selera pasar. Disuruh mewarnai saya nggak mau. Disuruh memberi lapisan didalam saya juga nggak mau. Sebab nanti malah akan menambah sampah baru. Di sini karena saya melawan kemauan pasar, artinya produk saya bisa ditolak atau malah diterima. Di situ ada adrenalinnya.

DSC_6619 (1)

Cukup berani juga ya Mas Wijo ini, lalu bagaimana strategi Mas Wijo untuk memasarkan produk Gunagoni?

Percaya diri aja kalau itu (nanti) diterima, karena saya beberapa kali ditolak. Tapi lama-lama diterima. Terus saya kasih-kasih ke orang ada juga yang mau. Sulitnya karena kan ini barang kotor. Tapi ya sekarang malah ada orang yang jauh-jauh ke tempat saya di kampung. Bela-belain pingin beli produk saya. Saya bingung juga rupanya goni dicari. Hahaha…

Lantas, apa cita-cita atau harapannya untuk Gunagoni ke depannya?

Nggak harus besar-besar jadi industri, pinginnya seperti UKM aja. Kan di setiap kota ada karung goni. Pinginnya orang-orang ‘yuk bikin goni juga’. Nggak perlu jadi besar, tapi semakin viral dan banyak yang mengkreasikan goni jadi barang yang bermanfaat.

TEST

Bangkit dari Krisis, Sunaka Jewelry Raup Omzet Hingga Rp 400 Juta Perbulan

Krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 memang berdampak buruk pada hampir semua kalangan, tak terkecuali para pengrajin di daerah. Namun hal ini tak menyurutkan niat dan semangat teman-teman dari Sunaka Jewelry, Bali untuk menghidupkan kembali usahanya.

Bila bicara mengenai perhiasan, emas boleh dibilang sebagai primadona yang selalu diminati oleh kaum wanita. Padahal, masih banyak material lain yang bisa dirangkai menjadi perhiasan yang apik dan berdesain elegan. Inilah yang sejak tahun 1979 sudah dilakukan oleh Sunaka Jewelry, salah satu dari banyak pengrajin perhiasan dari Desa Celuk, Gianyar, Bali. Kurang lebih dua puluh tahun berjalan, produk Sunaka hanya berorietasi untuk eksport, mengerjakan berbagai pesanan dari brand luar negeri, tanpa menggunakan nama sendiri.

“Tapi sejak krisis tahun 1999 pesanan kita berkurang jauh. Bahkan ada yang sudah putus. Akhirnya kita munculkan lagi tahun 2000 Memang agak berkurang sih tahun 2000. Tahun 2014 baru kita publish sebagai sebuah brand. Jadi bikin brand sendiri dan punya produk sendiri,” ujar Kadek Ganda Ismawan, owner Sunaka Jewelry.

Rela Resign Demi Fokus

Kadek
Kadek Ganda Ismawan, owner Sunaka Jewelry.

Perjuangan menghidupkan kembali usaha yang redup juga bukan perkara mudah. Diambil dari nama sang ayah, Sunaka Jewelry merupakan usaha turun temurun keluarga yang kini dijalani oleh Kadek. Pria kelahiran Denpasar, 10 Oktober 1981 ini memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai manager di hotel demi membangun kembali usaha keluarganya.

“Memang banyak teman-teman saya yang nggak mau meneruskan usaha keluarga. Tapi kalau saya sih pertama mau melestarikan tradisi di kampung kita yang sudah ratusan tahun ada sebagai pengrajin. Saya ingin melestarikan itu sebagai warisan leluhur buat anak cucunya. Kasihan juga nanti malah berkembangnya di tempat lain padahal kita sudah ada dari dulu,” ujar sarjana ekonomi ini.

Terus Mengembangkan Produk

Ketertarikan masyarakat Indonesia untuk mulai memakai perhiasan di luar emas juga jadi salah satu hal yang membuat Kadek mantap untuk menekuni pasar lokal. Perak yang sebelumnya dipandang sebelah mata kini mulai diminati masyarakat. Untuk membedakan produknya dari perhiasan lain, Sunaka punya kunci tersendiri.

Baca juga: Koleksi Passport Case Unik untuk Yang Hobi Taveling

“Yang pertama pastinya dari kualitas. Dalam proses pengerjaan kita memang fokus pada detail-detail dari kehalusan dan kerapihan. Yang kedua adalah desainnya. Walaupun kita ada ciri khas dari Bali ciri khas dari Indonesia, tapi kita sudah kontemporer dan sudah mengikuti desain yang terkini. Produk kita juga nggak sama dengan yang lain karena kita memang develop produk sendiri, nggak mengikuti yang lain,” terang Kadek.

Proses pengerjaan produk (Foto: Sunaka Jewelry)
Proses pengerjaan produk (Foto: Sunaka Jewelry)

Hingga saat ini, produk giwang atau anting masih menjadi andalan dari Sunaka. Dengan model Ombak Segare menjadi koleksi best seller. Diakui Kadek, keindahan alam dan budaya Indonesia memang jadi sumber inspirasi desain produknya. “Ada budaya Bali, Kalimantan, Jawa itu unsur budayanya sangat menginspirasi.  Termasuk juga alam, dari dari laut, binatang, sampai pola-pola tumbuhan itu banyak sekali yang bisa kita ambil untuk inspirasi desain,” imbuhnya.

Anting Ombak Segare

Meski sudah sangat expert untuk produk perhiasan, Kadek tak mau berpuas diri. Ia bahkan merencanakan untuk melakukan ekspansi ke bidang home decor. “Itu next plan-nya kita. Tapi untuk 1-2 tahun kedepan kita masih fokus di jewelry.

Sunaka Go Online

BO.025 (4)

Walau sudah malang melintang di industri perhiasan, salah satu pengalaman paling menarik yang dirasakan oleh Kadek adalah saat mulai merambah dunia online. “Terus terang jualan online ini termasuk barang baru bagi kita. Walaupun temen-temen yang lain mungkin sudah duluan. Kalau offline kita kan memang sudah dari dulu, tapi pas jualan online pertama itu exciting banget,” ucapnya. Pilihan jatuh pada Qlapa sebagai marketplace pertama yang digunakan untuk memasarkan produk Sunaka. Lebih dari sekadar tempat berjualan, Kadek merasakan manfaat lain saat bergabung dengan Qlapa. “Kita ada grup WhatsApp juga. Ada info-info tips biar kita jualan optimal di marketplace. Foto juga dibantu. Terus ada jualan offline juga kaya pameran. Komunikasi nyambung jadi kalo ada special  request dari customer disampein juga ke kita. Terus kita juga diingetin untuk kirim on time. Itu saya rasa luar biasa banget,” aku Kadek.

Baca juga: Our Zuri: Aksesoris Handmade Indonesia Tak Kalah dengan Buatan Impor!

Selain memasarkan barangnya secara online, Sunaka Jewelry juga memiliki dua offline store yang ada di Denpasar dan Ubud. Dibantu oleh 20 orang pengrajin dan 15 karyawan di office dan store, Sunaka kini meraih omzet rata-rata Rp 300 – 400 juta perbulannya.

Saat ditanya mengenai cita-citanya terhadap Sunaka Jewelry, Kadek punya jawaban tersendiri. “Saya harap bisa berkembang dan jadi sebuah brand yang dikenal tidak cuma di dalam negeri juga bisa berkembang di luar negeri, termasuk brand brand lokal yang lain dan bisa bersaing dengan brand luar yang sudah terkenal seperti Guess, Tifany,” tutupnya.

TEST

Our Zuri: Aksesoris Handmade Indonesia Tak Kalah dengan Buatan Impor!

Sempat berjualan aksesoris impor dari Korea, Sally akhirnya memutuskan untuk membuat sendiri aksesoris dengan desain yang mengangkat tema Indonesia.

Serbuan berbagai produk dari luar negeri memang kerap dianggap ancaman bagi para pengrajin lokal. Dengan harga yang lebih murah sehingga bisa mendapatkan keuntungannya yang lebih, kadang membuat pengrajin lokal sulit untuk bersaing. Hal inilah yang juga dirasakan oleh Sally Miranti Hutagalung. Wanita kelahiran Pangkalan Brandan, 19 Januari 1987 ini mengaku pernah menjual beragam aksesoris dan pernak-pernik impor, namun sayang, kualitas produk jualannya kerap dikomplain pelanggan. “Kadang pada komplain barangnya rusak dan banyak juga yang nyamain modelnya, jadi kaya aksesoris yang semua orang bisa punya,” ujar Sally. ‘Gerah’ dengan komentar para pelanggan, Sally pun akhirnya memutuskan untuk membuat sendiri produknya. Dengan begitu, ia berharap bisa mengontrol kualitas dan membuat produknya secara terbatas.

Dengan label Our Zuri, Sally merilis koleksi aksesoris dengan sentuhan etnik bagi para wanita Indonesia. Meski baru satu tahun berdiri, brandnya semakin dikenal dan bahkan terpilih menjadi Seller of The Month di Qlapa bulan ini. Mari simak ceritanya!

Halo Mbak Sally, sebelumnya selamat ya karena sudah menjadi Seller of The Month! Kalau boleh berbagi, adakah impact yang didapat dari berjualan di Qlapa.com?

Terima kasih! Yang jelas, orang lebih kenal Our Zuri karena kan Qlapa khusus handmade. Jadi lebih tepat sasaran penjualannya.

Sebagai Seller of The Month, boleh dong berbagai tips jualan di Qlapa dengan teman-teman yang lain.

Foto harus jelas harus nunjukin item-nya seperti apa. Terus saya sebetulnya belajar juga dari Qlapa, untuk penggabungan foto sebaiknya tidak dilakukan supaya lebih cepat lolos kurasi. Materi bahan harus jelas, jadi sesuai dengan ekspektasi pembeli.

Apa yg membedakan jualan sendiri secara individual melalui dengan jualan di Qlapa?

Kalau di sosmed yang melihat terbatas. Kalau di Qlapa kan khusus handmade, jadi orang yang datang memang mau cari barang handmade, sehingga lebih tepat sasaran.

 

WhatsApp Image 2017-04-25 at 10.03.34 (1)Nah, sekarang boleh diceritakan tentang Our Zuri dari segi desainnya.

Aku pribadi suka dengan yang etnik sebenernya. Aku suka batik dan tenun. Lalu etnik itu lagi happening banget nih. Jadi aku pikir kenapa aku nggak coba yang etnik. Akhirnya aku liat beberapa aksesoris dan pengin aku matching-in ke batik karena aku juga tiap hari pake batik, entah outer entah celana. Aku pengin bikin aksesoris yang etnik, tapi kesannya nggak terlalu seperti orang mau kondangan.

Dari mana biasanya mendapatkan inspirasi untuk membuat aksesoris?

Kalau inspirasi sih biasanya lagi jalan, terus liat orang pakai ‘kok lucu’ ya. Kada aku juga googling atau lihat-lihat di Instagram.

Dalam sebulan, berapa rata-rata produk yang dihasilkan?

Banyak banget, sehari bisa 3-5 minimal. Tapi itu juga tergantung, bisa juga sampai 3 hari nggak produksi sama sekali kalau lagi ada urusan keluarga atau keluar kota.

Produk Our Zuri rata-rata kalung, ada alasan di balik itu?

Karena itu yang paling banyak dipakai orang dan ukurannya universal. Kalau gelang kaki nggak semua orang suka pakai. Kalau cincin, kan tangan orang berkeringat dan bahannya bukan emas takutnya alergi. Cincin juga ukurannya beda beda jadi agak ribet kalay saya harus bikin ukuran yang semua orang bisa pakai.

Ada tips strategi pemasaran yang dilakukan supaya produk Our Zuri makin dikenal?

Aku ikut komunitas pecinta barang lokal, kaya komunitas tas kulit. Jadi kebanyakan mereka suka batik suka barang etnik jadi aku coba masukin ke mereka. Kadang kadang juga kalo di instagram berdasarkan hashtag juga bisa lebih spesifik. Dan kalau komunitas, bahkan kita jadi bisa berteman karena isinya ada belasan ribu orang. Kebetulan saya kan juga suka tas kulit. Dari masuk komunitas lewat Facebook, kita berteman terus mereka lihat timeline saya, dia liat saya bikin kalung, bikin aksesoris yang saya buat. Akhirnya mereka beli dan jadi pelanggan.

Ngomong-ngomong, Mbak Sally belajar membuat aksesoris dari mana?

Nggak ada, saya otodidak aja. Kadang saya lihat di Instagram, kadang saya Googling sendiri dengan model-modelnya. Jadi memang otodidak sendiri.

Kalau boleh tahu, sebelumnya apa profesi Mbak Sally?

Dulu aku sekretaris di perusahaan swasta. Sekitar 8 tahun yang lalu, jadi aku berhenti sejak menikah. Pernah juga coba asuransi, tapi berhenti karena memang bukan passion aku. Kebetulan dari dulu tuh aku sukanya aksesoris suka desain baju. Jadi memang passion-nya di fashion.

Lalu, siapa saja yang terlibat mengurus Our Zuri?

Semua aku. Mulai dari pilih bahan sampai jual, semua saya yang lakukan.

Wah, hebat sekali. Lalu bagaimana cara bagi waktu jadi ibu rumah tangga dan jadi crafter juga?

Kalau bikin aksesoris, waktunya bisa saya sesuaikan. Yang penting (suami) sudah pergi kerja, dan (anak) sudah pergi sekolah, baru saya bikin. Paling ribetnya karena saya punya anak kecil, kadang suka gangguin. Paling kalau gitu saya siapin yang buat dia, jadi dia ga ngerecokin yang punya saya. Jadi kita bikin sama-sama. Lumayan bikin anak jadi kreatif dan ga ngeribetin saya. Hehehe. Sebisa mungkin kalau saya punya waktu saya kebut, karena nggak terus-terusan saya bisa punya waktu luang.

Adakah cita-cita Our Zuri yang belun tercapai?

Aku mau jual export. Sebenarnya sudah mulai lihat-lihat seperti pengurusan ke Paypal. Dan saya masih mau cari ekspedisi yang murah, jadi yang di luar negeri bisa beli karena barangnya nggak terlalu mahal dan bisa dapet biaya kirim yang juga nggak mahal.

TEST

Mr.Shoelaces, Bisnis Tali Sepatu dengan Omzet Hingga Rp80 Juta Perbulan

Belum genap 2 tahun berdiri, produk dan performa brand asal Bandung, Mr. Shoelaces sudah mencuri perhatian para pencinta sepatu di Indonesia. Seperti apa cerita di balik pembuatan tali sepatu ala Mr. Shoelaces? Simak obrolan kami dengan Budi Nurcahyo, owner dari Mr. Shoelaces, Qlapa Seller of The Month bulan ini!

Toko virtual Mr.Shoelaces di Qlapa (Dok. Mr.Shoelaces )
Toko virtual Mr.Shoelaces di Qlapa (Dok. Mr.Shoelaces )

Halo Mas Budi, selamat ya karena telah menjadi Qlapa Seller of The Month. Ceritakan dong pengalaman selama berjualan di Qlapa!

Terima kasih! So far kami sudah jalan 2 tahun di Qlapa. Awalnya kami hanya jual tali kulit aja di Qlapa. Baru akhir-akhir ini kita sering upload yang tali lilin sama sepatu juga. Dari segi promosi Qlapa sangat membantu. Selain itu karena Qlapa memang khusus untuk jual kerajinan tangan jadi lumayan sangat membantu kami di sisi penjualan juga.

Baca juga: Koleksikikie, Brand Aksesoris yang Lahir dari Ibu Rumah Tangga

Apakah Mr. Shoelaces punya strategi khusus dalam memasarkan produknya secara online?

Karena kita jualan online, customer tidak bisa merasakan sendiri barangnya seperti apa.  Otomatis dia cuma lihat dari foto, dari situ kita harus coba tunjukin detailnya dari kerapihan juga.  Untuk itu buat foto yang detail dan atraktif,  jadi customer tertarik dengan tampilan produk kita. Yang kedua, setiap marketplace beda-beda treatment-nya, kalau bisa pasang iklan atau cari strategi lain untuk meningkatkan penjualan.

Sebagai Seller of the Month, ada tips yang bisa dibagi ke seller lain di Qlapa?

Kalau berjualan di Qlapa jangan lupa untuk share ke orang-orang lain juga. Sering update produk dan lakukan pengiriman dengan cepat. Sebisa mungkin pengiriman jangan lebih dari 1×24 jam. Karena SOP kami sendiri satu hari bisa sampai beberapa pengiriman pick up. Sampai jam setengah 9 malem kami juga masih kirim. Oya kalau di Qlapa usahakan foto harus lebih bagus.  Jangan lupa tingkatkan kreatifitas dan jangan pernah menyerah.

Tali Sepatu Kulit (Dok. Mr Shoelaces)
Tali Sepatu Kulit (Dok. Mr Shoelaces)

Wah senang rasanya kalau Qlapa bisa membantu pengrajin lokal. Ngomong-ngomong bagaimana ceritanya membangun brand ini?

Mr. Shoelaces berdiri tahun 2015 di Bandung dan diawali dari usaha sepatu. Awal membuat tali sepatu lilin dan kulit ini adalah permintaan khusus konsumen. Dari situ baru muncul ide untuk (secara khusus membuat) tali kulit dan lilinnya. Awalnya baru beberapa warna seperti hitam dan  coklat. Lama kelamaan karena banyak permintaan sampai saat ini sudah ada 132 sku untuk jenis tali lilin dan kulitnya.

Siapa partner Mas Budi membangun brand ini?

Bersama adik saya, karena memang dari usaha sepatu itu kan sama saya adik saya. Nah kalo sekarang adik saya lebih ke sepatunya. Saya lebih ke tali sepatu. Sekarang kita sudah punya tim yang jumlahnya 5 orang.

Kenapa tertarik memilih industri sepatu?

Soalnya kalau tali sepatu saya lihat masih sedikit pesaingnya. Bisa dibilang kami sebagai pelopor tali sepatu lilin dan kulit terlengkap di Indonesia. Ada kompetitor yang juga jual tali sepatu, tapi untuk variasi warna masih kurang lengkap. Sedangkan produk yang kami jual sangat lengkap pilihannya mulai dari warna, ukuran, dan jenisnya. Kami ada tali kulit, tali lilin. Tali lilin sendiri ada yang bulat, oval, yang flat. Macam macam jenisnya.

Oh begitu, berarti sekarang brand ini dijalankan secara bersamaan dengan brand sepatu yang sebelumnya?

Iya, tapi kalau sepatu kita bikin brand baru namanya MR. Footwear

Ada arti di balik brand Mr. Shoelaces dan Mr. Footwear?

Sebenernya MR itu dari nama CV kita sih yang artinya mitra. Nama CV kami kan namanya CV mitra bersaudara karena kebetulan kami semua saudaraan sih saya, adik saya, sepupu kami berlima sepupuan.

Berapa sih modal awal saat membangun Mr.Shoelaces?

Modal awal untuk merintis kurang dari Rp10 juta. Itu untuk produksi tali, packing, promosi, dan lain-lain.

Setelah hampir dua tahun ini berjalan, berapa omzet Mr.Shoelaces saat ini?

Untuk tali sepatu bisa Rp60-80 juta per bulan kalau untuk sepatu sendiri masih belum begitu banyak. Mungkin sekitar Rp20 hingga Rp35 juta per bulan.  Karena kan kami jual juga lewat reseller dan itu membantu sekitar 30% dalam meningkatkan penjualan.

Apa sih bagian paling menyenangkan dalam membangun brand Mr. Shoelaces?

Jujur saya sebelumnya kerja di asuransi di asuransi swasta selama 5 tahun. Kemudian saya memutuskan untuk berwirausaha di tahun 2016  di bidang sepatu dan tali sepatu. Kalau sebagai wirausaha, banyak sekali pengalaman baru yang saya dapat. Sangat berbeda dengan ketika saya bekerja swasta dan mendapat gaji setiap bulan.  Kalo wirausaha saya harus berjuang sendiri dan semua ditentukan oleh diri sendiri.

Mr.Shoelaces
Proses pembuatan tali sepatu (Dok. Mr.Shoelaces)

Wah menarik sekali, ngomong-ngomong berapa sepatu dan tali sepatu yang dihasilkan tiap bulannya?

Kalau untuk tali sepatu sekitar 3000-4000 pasang per bulan.  Sedangkan sepatu tidak terlalu banyak sekitar 30 sampai 40 pasang per bulan.  Karena brand sepatu ini kita baru mulali di bulan Desember, jadi masih baru.

Kalau boleh tahu dari mana biasanya Mas Budi mendapatkan bahan baku tali sepatu ini?

Bahan bakunya sendiri ada yang import dari China seperti untuk tali sepatu lilin dan ada beberapa juga yang dari pabrik di sini. Nah, kalau untuk yang kulit Biasanya kita beli kulit yang panjang lalu kita potong manual untuk talinya.

Baca juga: Lily Lamp Art, Menghidupkan Lagi Usaha Keluarga yang ‘Mati Suri’

Dari sisi daya tahan lebih kuat yang mana tali sepatu lilin atau yang tali sepatu kulit?

Dua-duanya sama-sama kuat dan tahan lama karena dari pemilihan bahannya sendiri seperti yang kulit, kami pilih kulit yang tebal. Selain itu kami juga bagian QC (quality control) untuk mengecek tali sepatu ini kuat atau nggak sebelum kami kirim ke konsumen.

Ohya, apakah saat ini Mr.Shoelaces sudah memiliki offline store?

Saat ini kami sedang mencoba sistem konsinyasi di Jakarta kita ada 2 (toko) dan di Surabaya ada satu.  Rencananya di tahun 2017 ini mau coba masukin barang ke Yogyakarta, Semarang, Bali, dan ingin menambah yang di Jakarta lagi.

Ada rencana atau harapan khusus yang ingin dicapai lima tahun ke depan?

Kami ingin membuat store offline di Bandung. Semoga dalam dua tahun ini bisa segera terealisasi.

TEST

Diby Leather dan Semangat Berkerajinan yang ‘Menular’ di Yogyakarta

Seakan berlomba-lomba, Indonesia kini menjadi lahan yang subur bagi industri kreatif, termasuk untuk para pengrajin lokal. Produksi kerajinan berbahan dasar raw material seperti kain, kulit dan sebagainya mulai marak di produksi.

Terinspirasi dari seorang teman yang sudah terlebih melakukan usaha pembuatan tas kulit, Ayu merasa tertarik untuk mencoba bisnis ini, meski tanpa modal dan pengetahuan yang cukup tentang kulit. Ia beranggapan bahwa apa yang orang lain bisa lakukan, tentu pula dapat ia lakukan. Lalu kenapa tidak ia mulai saja bisnisnya sendiri? Kepada Qlapa, wanita bernama lengkap Bayu Ratna Dhini ini menceritakan lebih dalam perjuangannya mendirikan Diby Leather.

diby5
Ayu dan tas kulit dari Diby Leather

Belajar kulit secara otodidak

Sebagai kota dengan jumlah pengrajin yang cukup besar, Yogyakarta memang tak pernah kehilangan daya tariknya. Produk seni buatan tangan dari kota ini bahkan sudah banyak yang sampai ke dunia internasional.

Sebagai penduduk asli Yogyakarta, Ayu memiliki semangat juang yang sama. Ia beranggapan, persoalan memproduksi kerajinan apapun seharusnya bisa ia lakukan sendiri. “Yogya ini pusatnya para pengrajin. Aku berpikir, kalau temanku bisa buat sendiri kenapa aku enggak? Akhirnya aku coba belajar cara pembuatan tentang produksi kulit itu sendiri. Mulai dari bahan, pengrajin yang bisa diajak kerjasama dan lain-lain,” tutur Ayu.

Produksi Diby Leather dilakukan secara handmade
Produksi Diby Leather dilakukan secara handmade

Bermula pada tahun 2012, Ayu mempelajari banyak hal tentang industri yang digelutinya saat ini. Ia mengasah diri belajar teknik menjahit, membuat pola, hingga proses produksi. Sebagai entrepreneur, dari hal terkecil hingga terbesar dalam industrinya Ayu merasa harus menguasainya terlebih dahulu.

“Dulu modal awal itu nggak terlalu banyak. Mungkin sekitar Rp30 juta, itu juga sempat jual mobil hahahaha. Karena nekat aja, kita buat beli peralatan mesin jahit, mesin seset dan lain-lainnya. Karena modal kita terbatas, kita ngandalinnya sistem pre order dengan pembayaran di muka 50%. Nanti bisa kita putar buat membeli bahan-bahan. Sekarang, Alhamdulillah kita sudah bisa stock,” tutur Ayu.

Baca juga: Lily Lamp Art, Menghidupkan Lagi Usaha Keluarga yang ‘Mati Suri’

Setelah mempelajari teknik dasar, akhirnya Ayu memberanikan diri membeli beberapa mesin jahit untuk produksi. Ditemani suaminya, ia mendirikan Diby Leather. Sepintas jika kita membaca namanya terdengar lucu, Diby. Kamu ingin tahu apa arti di balik nama tersebut? Ayu menjelaskan, “Aku punya 2 orang anak, yang pertama namanya Dinda dan yang kedua namanya Baby. Kedua nama itu yang aku gabung menjadi Diby,” akui Ayu.

Diby Leather yang Tak Ingin Gadaikan Kualitas

Produk tas kulit Dirby Leather
Produk tas kulit Dirby Leather

Persaingan tentu terjadi di mana pun. Dalam hal ini, Ayu yang bersaing dengan para pengrajin besar di Yogyakarta, mengaku persaingan ketat ini justru menambah semangatnya.

“Yogya itu pusat kerajinan ya, dan banyak juga yang produksi seperti kami. Persaingannya ketat. Dari harga sudah bersaing, brand apalagi, juga harga produksi semua sudah naik. Kita harus lebih kreatif dan inovatif lagi,” ungkap Ayu. Meski banyak produk tas yang menawarkan harga murah, hal ini tak ingin dijadikannya sebagai srategi pemasaran.

Diby Leather menurut Ayu, sangat mengutamakan kualitas dan juga bahan produksi. Bahan dasar kulit ia beli langsung dari salah satu pengrajin di Jawa Timur untuk di samak (proses pengolahan warna). Sang suami membantu menyamak kulit, dan Ayu mengolahnya menjadi produk Diby Leather seperti tas, dompet dan lain-lain. Hal ini ia akui sebagai satu langkah memangkas harga produksi, dibanding harus membeli kulit jadi dari pengrajin.

Baca juga: Koleksikikie, Brand Aksesoris yang Lahir dari Ibu Rumah Tangga

Diby Leather memakai spesialisasi pull-up yang membuat produk lebih tahan lama. “Kalau untuk kulitnya sendiri kita pakai yang sudah matang. Kita pakai spesialisasinya pull-up. Kalau kulit matang itu kan dipakai dalam jangka waktu yang lama lebih awet,” jelas wanita kelahiran Yogyakarta, 18 Desember 1981.

Diby Leather

Dengan kualitas yang bisa diadu, Diby Leather menghargai produknya Rp 350 ribu hingga Rp 2 juta. Tas kulit yang dihasilkan kini dipasarkan di beberapa marketplace, termasuk Qlapa. Untuk toko fisik Ayu mengaku belum memilikinya karena toko online menurutnya lebih efisien. “Kita home industry, jadi kalau ada yang mau mesan, ke rumah aja juga bisa gitu hahaha,” canda Ayu.

Saat ini Diby Leather dikerjakan oleh 5 orang pengrajin, termasuk Ayu sendiri dan sang suami. Lebih dari 5 tahun berdiri, Ayu berharap produk yang ia hasilkan dapat merambah ke pasar ekspor dan dikenal di pasar internasional. “Kalau bisa enggak usah nunggu 5 tahun ke depan, harus bisa secepatnya,” tambah Ayu.

Diby Leather memiliki satu mimpi yang lebih besar, yakni menjadi brand yang mumpuni dan terkenal dengan produk mereka sendiri. Mengembangkan kerajinan asli Indonesia dari tangan pengrajin Indonesia. “Kita juga mau kembangkan ke yang lain. Misalnya kain-kain tradisional padukan dengan kulit. Walaupun itu sudah ada, tapi kita mau punya konsep seperti itu,” tutup Ayu.

TEST

Lily Lamp Art, Menghidupkan Lagi Usaha Keluarga yang ‘Mati Suri’

Meneruskan bisnis keluarga sebenarnya bukan opsi pertama yang dipilih Frisky dalam berkarier. Namun krisis ekonomi global yang terjadi pada 2013 akhirnya membuat pria yang sempat bekerja sebagai travel agent ini memutuskan untuk kembali menghidupkan kembali Lily Lamp Art, usaha keluarga yang berbasis di Bali dan sempat gulung tikar.

Simak obrolan kami dengan Frisky Ihrom Febianto soal perjuangannya membangun Lily Lamp Art dari awal.

Workshop Lily Lamp Art
Workshop Lily Lamp Art

Halo Mas Frisky ceritakan dong, kenapa lebih memutuskan untuk melanjutkan brand Lily Lamp Art sendiri dibandingkan dengan karier yang sudah dijalani?

Pertama karena cita-cita idealis saya ingin jadi owner. Kemudian yang kedua, kasihan kalau (usaha ini) mati begitu saja. Saya bisa sekolah dan sampai sebesar sekarang karena usaha ini. Selain itu saya ingin nama Lily Lamp Art ini bisa sampai jauh. Jadi nanti saya bisa cerita ke anak-anak saya nanti tentang sejarahnya perusahaan ini.

Bisa dibilang Lily Lamp Art yang sekarang adalah yang versi baru, kalau boleh tahu, apa bedanya dengan versi sebelumnya?

Lily Lamp Art awalnya adalah bisnis yang berfokus pada penjualan wholesale and eksport yang sama sekali tidak menggunakan fasilitas online marketing untuk bisnisnya. Nah, saya berinisiatif untuk mengganti pangsa pasar, dan beralih ke penjualan melalui media pemasaran online (online marketplaces). Dimulai dari pembenahan branding, nama Lily Lamp Art diubah menjadi Lily Lamp Art Bali. Media sosial seperti Instagram dan Facebook mulai dibenahi, produk-produk baru mulai diproduksi, difoto, dan dipasarkan online.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Seluruh pengerjaan dilakukan secara manual (Foto: Dok. Lily Lamp Art)
Proses pembuatan lampu hias
Proses pembuatan lampu hias (Foto: Dok. Lily Lamp Art)

Apa yang membuat produk Lily Lamp Art berbeda dengan produk-produk lampu hias lainnya?

Lampu kami 100% handmade menggunakan bahan baku yang pada dasarnya adalah limbah dan merupakan salah satu pengganti ‘kayu bakar’ yaitu bagian klopping kelapa. Pemanfaatan bahan baku ini secara tidak langsung memberikan pendapatan tambahan bagi para petani kelapa yang banyak terdapat di Pulau Jawa dan Bali. Selain itu dari segi desain, dan yang ketiga saya sendiri merasa kalau barang itu nggak bagus, saya nggak akan jual. Jadi di sini pun kadang  saya overbudget. Karena kalau pas finishing itu kurang bagus, akhirnya saya ulangi lagi. Jadi kelebihannya adalah kami menggaransi bahwa produk kami memiliki standard yang bagus.

Ngomong-ngomong kenapa namanya Lily Lamp Art?

Ini diambil dari nama ibu saya, Lily. Menurut saya nama itu juga nggak jelek sih. Dan tentu saja nama itu menyimpan sejarah dan cikal bakalnya terbentuknya Lily Lamp Art.

Oke, lantas apa sih tantangan terberat dalam menjalankan Lily Lamp Art sekarang?

Karena saya take over benar-benar dari 0. Jadi semua saya jalanin sendiri, dari produksi, pemasaran. Akhirnya saya ambil beberapa orang untuk bantu-bantuin saya di pemasarannya dan produksinya. Jadi tantangannya sekarang adalah bagaimana membuat produk itu tetap bisa available. Selama ini kan kendalanya di ada PO (pre order), untuk antar ready stock-nya tuh susah. Karena kita juga harus handle untuk yang offline juga.

Siapa saja tim yang ada di Lily Lamp Art?

Ada tiga orang. Saya, Novy (istri), sama bapak saya masih bantuin. Jadi Novy lebih banyak ke pemasarannya. Dia handle marketplace mulai dari stocking, respon untuk pertanyaan sampai korespondensi ke beberapa hotel dan vila yang ada di offline. Saya sendiri handle produksi dibantu bapak saya.

proses 4

Berapa rata-rata produk yang dihasilkan dalam sebulan, dan kemana saja dipasarkannya?

Dalam sebulan kami bisa membuat hingga 100 buah lampu. Produknya kami jual di beberapa marketplace, salah satunya di Qlapa. Selain itu kami juga masih mengekspor ke beberapa langganan kami yang lama seperti di Jepang, Eropa, dan Australia. Sebelumnya memang kami lebih banyak ekspor, tapi saya melihat Indonesia sendiri termasuk negara yang konsumtif. Makannya saya getol banget fokus untuk bisa masarin produk ini dalam negeri. Yang eksport sih ada juga tapi cuma masih belum begitu saya fokusin sekarang, karena daya beli mereka juga masih belum stabil.

Kalau boleh tahu, berapa omzet Lily Lamp Art saat ini?

Dari marketplace kurang lebih Rp 5 juta, kalau dari offline-nya dari belasan sampe puluhan (juta).

Pengerjaan dilakukan dengan tangan (Foto: Dok. Lily Lamp Art)
Pengerjaan dilakukan dengan tangan (Foto: Dok. Lily Lamp Art)

Punya strategi online marketing khusus dalam memasarkan produk Lily Lamp Art?

Untuk online, selain kualitas dan desain (produk) kita juga harus tahu kebutuhan masyarakat apa. Yang pertama harga terjangkau, kedua kemudahan dalam bertransaksi, kemudahan dalam pengiriman, pengiriman bisa dari biaya dan ketepatan waktunya. Kami juga selalu posting di sosial media pribadi di mana produk kami bisa dibeli, japa kelebihannya, dan kalau sedang ada promo kami bantu posting juga.

Apa sih kendala yang paling dirasakan saat beralih ke pasar online?

Kendalanya itu membuat produk yang ramping tapi bagus. itu tantangan yang agak sulit. Karenakan masyarakat terbeban di ongkos kirim. Sebenernya produk kami banyak jenisnya, cuma karena size-nya cukup besar ongkos kirimnya jadi tinggi sekali pasti.

Terakhir nih, kira-kira lima tahun ke depan Lily Lamp Art sudah seperti apa, ya?

Target kami adalah punya toko lagi, bisa pameran di berbagai tempat. Suatu saat saya harus bisa untuk masuk dan memasarkan produk kami lebih luas lagi. Karena usaha ini challenge-nya beda dari usaha yang lain, sebab lampu dekorasi bukan barang primer yang orang butuh banget. Tapi bagaimana bisa menjual ini sebanyak yang lainnya. Itulah tantangannya.

Artikel lainnya yang mungkin kamu suka:

Koleksikikie, Brand Aksesoris yang Lahir dari Ibu Rumah Tangga

Diby Leather dan Semangat Berkerajinan yang ‘Menular’ di Yogyakarta

TEST

Koleksikikie, Brand Aksesoris yang Lahir dari Ibu Rumah Tangga

Menjadi seorang ibu rumah tangga tak membuat Riski Hapsari berhenti berkarya. Lewat kreasi jari jemarinya, brand aksesoris Koleksikikie pun lahir.        

Dipercaya menjadi seorang ibu adalah dambaan hampir semua perempuan. Terlebih lagi bila dapat mengurus dan melihat perkembangan anak setiap hari secara langsung. Tugas seorang ibu begitu besar di rumah hingga terkadang si ibu rela melepaskan pekerjaannya demi peran total sebagai ibu. Hal ini juga dirasakan oleh Kikie usai melahirkan anak pertamanya. Ia yang sebelumnya bekerja di kantor akhirnya memutuskan untuk resign setelah kondisi tubuhnya yang kurang fit setelah operasi. Meski sibuk mengurus anak  dan rumah tangga, Kikie merasa ia masih ingin berkarya. Ide-ide kreatif di otaknya masih haus untuk dituangkan.

Sepuluh tahun sudah Kikie merintis bisnis aksesorisnya, KoleksiKikie, bukan perjalanan yang mudah. Simak certia Kikie menyeimbangkan perannya sebagai pebisnis sekaligus ibu rumah tangga.

Dimulai Sejak Remaja

WhatsApp Image 2017-02-16 at 11.02.00
Riski Hapsari saat Mengisi Workshop dan Tutorial

Jika dirunut ke belakang, cikal bakal Kikie berbisnis aksesoris berupa kalung, gelang, dan lain-lain, sebenarnya mulai tumbuh di bangku Sekolah Menengah Pertama. Saat itu, Kikie yang menjabat sebagai ketua OSIS menggalang dana untuk kegiatan sekolah bersama teman-temannya. Setelah berembuk, akhirnya mereka sepakat untuk menjual aksesoris dari rangkaian manik-manik yang dikreasikan sendiri. Tak disangka, aksesoris yang dibuatnya ternyata cukup laku dan banyak peminatnya.

Seiring dengan banyaknya kegiatan, usaha ini pun tak dilanjutkan. Namun kecintaannya pada aksesoris memang tidak padam. Baru pada 2006, ia mulai lagi berkreasi usai mengikuti kelas membuat aksesoris dari sebuah tabloid di Surabaya. Berbekal skill yang didapat dari pelatihan tersebut, ditambah kreatifitas dan rasa ingin tahu yang tinggi, Kikie pun merintis usahanya dengan nama Koleksikikie pada 2007. Saat itu ia mulai menawarkan hasil karyanya pada teman-teman dan orang terdekat. Setelah 3 bulan berlalu, akhirnya ia marasa penjualannya menurun lantaran hampir semua temannya sudah membeli aksesoris yang ia jual.

Dengan kondisi masih memiliki seorang bayi, Kikie sadar betul kalau kemampuannya terbatas. Akhirnya ia melihat peluang untuk memasarkan produknya secara online. “Saat itu masih jarang penjual produk handmade dan cara ini juga memudahkan saya yang baru punya baby. Secara online, saya bisa memasarkan produk aksesoris tanpa harus keluar rumah,” cerita alumnus akuntansi Universitas Airlangga ini.

Akhirnya pada Agustus 2007, ia mulai menjual produknya secara online lewat Multiply. Namun saat itu melakukan jual beli secara online juga belum terlalu populer di Indonesia. Ia merasakan betul bagaimana para konsumen cenderung tidak percaya dengan transaksi online. Lucunya, suatu kali pelanggannya pernah meminta dikirimkan foto rumah Kikie, lantaran tidak percaya. Ada-ada saja!

koleksikikiall
Aksesoris dari Koleksikikie

Namun berkat usaha yang konsisten dan terus mengasah kreatifitas, Koleksikikie kini terus berkembang besar. Dengan ciri khas berupa aksesoris seperti kalung, gelang, yang dimodifikasi dengan kain khas Indonesia, brand ini siap memanjakan para pecinta aksesoris Tanah Air.

Empowering Women Through Crafts

WhatsApp Image 2017-02-16 at 11.02.01

Sukses membangun bisnis tak membuat ibu tiga anak jadi lupa diri. Ia ingin pengetahuannya juga bisa berguna bagi orang banyak. Kikie akhirnya jadi membuka peluang usaha baru berupa workshop dan tutorial di berbagai tempat. Ia juga pernah memberikan workshop dan tutorial bagi korban tsunami di Aceh untuk belajar dan menghasilkan produk yang kemudian bisa dijual.

Uniknya, Kikie justru mengandalkan orang-orang sekitarnya seperti tetangga sekitar, hingga pelanggan yang pernah mengikuti tutorial dan workshop-nya, untuk mengerjakan produksi tokonya. “Untuk langkah pengerjaan yang relatif sama, terus menerus, dan pola sederhana kami serahkan ke orang lain untuk menghemat waktu,” ujarnya.

Kikie menyediakan desain dan bahan yang digunakan untuk produksi. Produk yang dihasilkan dari kelompok-kelompok kecil tersebut, kemudian dikumpulkan untuk dilakukan finishing yang dilakukan di workshop-nya. Dengan sistem upah untuk setiap barang atau aksesoris yang dihasilkan, Kikie berusaha memberdayakan para ibu rumah tangga untuk tetap dapat mendapat penghasilan tanpa perlu ke luar rumah.

Membangun bisnis yang lebih besar memang menjadi salah satu impian Kikie, dan ia sadar betul apa yang dibutuhkan untuk mencapainya. “Mimpi besar saya sebagai pribadi pengen bisa mengajak lebih banyak perempuan untuk membuat craft dan memasarkannya dari rumah. Karena saya melihat, pada akhirnya kalau kita mau lebih maju, kita harus punya kelompok-kelompok kecil, rumah-rumah produksi yang mendukung bisnis craft ini,” pungkasnya.

Kikie saat menjadi pengisi acara World Islamic Econonomic Forum
Kikie saat menjadi pengisi acara World Islamic Econonomic Forum

Dengan pengalaman selama 10 tahun ini, Kikie melihat produk handmade memang tak bisa bersaing dari segi kuantitas. Padahal untuk bisa memperluas jaringan bisnis menuju eksport, dibutuhkan kuantitas tertentu. “Seringkali kita ikut event pameran, pas dapet orderan banyak malah dilepas karena ketidaksanggupan dalam proses pengerjaannya. Misalnya tidak ada bahan baku yang serupa dalam jumlah banyak, tenaga kerja yang terampil dan terlatih kurang, ataupun waktu pengerjaan yang terbatas sementara untuk pembuatan dalam jumlah besar butuh waktu lama,” urainya. Solusinya menurut Kikie adalah pengadaan rumah produksi yang bisa fokus mengerjakan satu kegiatan craft tertentu. Dengan begitu akan lebih mudah untuk mencari supply barang ketika permintaan tinggi.

Lewat jaringan kelompok-kelompok kecil yang semakin banyak dan terlatih, Kikie optimis produk handmade bisa jadi primadona, sekaligus cara untuk memberdayakan wanita.

Sebab menjadi seorang ibu bukanlah alasan untuk berhenti berkarya. Dengan anugerah berupa kemampuan multitasking, seorang ibu bisa mengurus rumah tangga sekaligus membuat bisnis yang tak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tapi juga orang banyak.

TEST

Inspiratif! Daripada Pacaran Buang Waktu, Pasangan Ini Buat Bisnis Bersama

 

Bosan sekadar nonton, makan, atau nongkrong saat pacaran? Mungkin ide ini bisa jadi inspirasi pacaran yang produktif dan menghasilkan.

Malas buang-buang waktu untuk hal nggak berguna. Inilah salah satu alasan yang membuat Faishal Azmi Ardika (Dika) dan Ameylia Kania (Kania) saat mendirikan brand handmade Gulaliku. Menjalin hubungan pacaran jarak jauh, Yogyakarta dan Nganjuk, nyatanya nggak membuat kedua sejoli kehabisan inspirasi. Berawal dari hobi yang sama, menggambar, pada Oktober 2014, keduanya sepakat membangun Gulaliku.

“Kita kepikiran untuk buat sebuah project bareng. Idenya sih bikin sesuatu dari gambar kita, yang nggak cuma jadi pajangan aja, tapi juga bisa dipakai sehari-hari,” ujar Dika. Nama Gulaliku sendiri diambil dari jajanan masa kecil yang kini namanya mulai redup. Kania dan Dika ingin orang kembali mengingat jajanan manis nan bersahaja tersebut.

Kalendar meja Gulaliku
Kalendar meja Gulaliku

Produk pertama yang dihasilkan adalah kalendar yang terbuat dari kayu. Lagi-lagi karena faktor ‘sayang’, Dika menggunakan kayu sisa yang digunakan untuk tugas kuliah sebagai material produknya. Kania dan Dika menggunakan hasil ilustrasi yang di-scan, kemudian dicetak sebagai gambar untuk kalendarnya. Karena masih baru memulai, keduanya menggunakan akun media sosial pribadi untuk memasarkan produknya. Dengan respon yang cukup baik, keduanya pun memutuskan untuk meneruskan usahanya.

Gulaliku

Andalkan sisi custom

Hampir tiga tahun berjalan, produk yang dihasilkan Gulaliku kini tak hanya kalendar, namun juga ilustrasi pop up, kartu ucapan, hingga hiasan dinding lainnya. Agar berbeda dari brand lainnya, pria kelahiran 11 Agustus 1993 ini memilih untuk membuat produknya secara customize, alias bisa dipesan sesuai keinginan pembelinya. “Kita ingin memberi personal touch untuk setiap produk yang kita jual. Jadi ada nilai lebih dari karya itu sendiri,” ujarnya.

Dengan membuat produk secara customize, Dika menyadari kalau Gulaliku tidak bisa memproduksi karyanya secara massal. Namun hal itu bukan masalah baginya. Sebab, dengan begitu, ia bisa mengenal setiap pelanggannya secara personal. “Pernah ada yang pesan hiasan dinding yang bentuknya quotes. Si pembeli ini cerita kalau dia mengidap penyakit yang nggak bisa disembuhkan. Quotes yang dia pesan itu jadi salah satu penyemangat dia setiap harinya. Mendengar cerita seperti itu yang bikin kita selalu semangat untuk berkarya. Karena kita tahu karya kita punya makna sendiri untuk yang memilikinya,” cerita Dika yang menimba ilmu di jurusan Desain Komunikasi Visual ini.

Sempat kesulitan membagi waktu

SAMSUNG CSC

Menghidupkan sebuah brand memang bukan perkara mudah, karena diperlukan tekad dan komitmen untuk menjalankannya. Hal ini makin dipersulit karena di awal, Dika dan Kania harus menjalani hubungan jarak jauh. “Jadi kadang produksinya masih setengah jadi, terus dibawa ke Yogya untuk diselesaikan, atau gantian dikerjakan di Nganjuk. Susahnya di situ sih,” terangnya. Tak hanya soal jarak, tantangan dalam membangun Gulaliku juga dirasakan lantaran keduanya masih sama-sama menempuh masa kuliah. Pada awal didirikannya Gulaliku, Dika sendiri masih menjalani kuliah. Alhasil, ia harus bisa membagi waktu untuk fokus pada kuliahnya sambil terus mengembangkan Gulaliku.

Apalagi hingga tahun ketiga berjalan, Gulaliku juga masih dikerjakan oleh Dika dan Kania saja. “Yang saya bingung itu orang sering bilang waktunya kurang. Nyatanya saya harus kuliah dan mengerjakan pesanan tapi saya bisa tetap istirahat cukup. Nggak sering begadang juga, walaupun ngerjainnya cuma berdua aja. Intinya sih gimana kita atur waktunya aja,” pungkas cowok yang hobi desain ini.

Semakin lengket lewat Gulaliku

Dengan melakukan kegiatan positif bersama, Dika dan Kania mengaku belajar banyak. Tak hanya soal bisnis, tapi juga soal mengatur emosi dan kekompakannya dalam hubungan. Hasilnya, pada 2016 lalu keduanya memutuskan untuk menikah dan tidak lagi menjalani hubungan jarak jauh.
“Dengan menjalani bisnis bersama, enaknya ya kita bisa makin dekat karena ngerjainnya bisa bareng. Kan jarang ada pasangan yang bisa gitu, bisa dibilang ya kita ini couple crafter,” imbuh Dika. Karena sudah tidak ada jarak yang menghalangi, keduanya mengaku  jadi bisa lebih produktif. Pembagian kerjanya pun jadi lebih jelas dengan Dika berperan mendesain, dan Kania yang mengurusi promosi sekaligus menyelesaikan proses produksi kertasnya.

Hingga kini produk-produk Gulaliku masih dipasarkan secara online, salah satunya lewat Qlapa. Kalendar mejanya dihargai Rp75.000, sedangkan untuk ilustrasi pop art yang bisa dipesan custom dijual mulai dari Rp175.000. Dengan rata-rata omzet di atas Rp5 juta tiap bulannya. Meski begitu, Dika mengaku masih menyimpan mimpi untuk membuat toko offline untuk menjual produknya suatu saat nanti.

Saat ditanya apa arti Gulaliku untuknya, Dika pun menjawab, “Gulaliku adalah kebahagiaan, karena kami melakukannya dengan senang hati. Imbalannya adalah ketika karya kami dibeli orang. Kami senang karena kami nggak semata-mata dagang, tapi bisa memberi sentuhan personal untuk setiap pelanggan kami,” tutupnya.

 

TEST

XSProject: Misi Penyelamat Bumi dan Generasi Pemulung

Lupakan sejenak temaram kilau monas yang meliuk tinggi, pusat perbelanjaan yang berserakan di tiap sudut kota, ataupun kepadatan penduduk yang terlampau rumit. Jika bicara tentang Jakarta dan nilai yang terkandung di balik namanya, bolehlah referensi di atas menjadi pilar utama. Akan tetapi, Jakarta dan penduduknya lebih paham betul akan kehidupan yang dijalani. Dan kini saatnya bergumul dengan entitas lainnya, yakni labirin permasalahan limbah dan sampah yang itu-itu saja, wujud nyata dari megahnya Ibukota.

Tentu permasalahan ini bukan hal yang baru, dan kamu pasti setuju. Di balik lebarnya ruas jalan Jakarta, jika dihujani air selama 5 menit saja permukaan aspal bisa tergenang bebas, walau tidak merata. Tanpa aliran yang bersih untuk dilalui, sampah yang menumpuk masih dapat ditemui di tiap permukaan sungai.

Permasalahan inilah yang akhirnya melahirkan XSProject, sebuah yayasan sekaligus social entrepreneur yang mengolah sampah plastik menjadi produk. Kepada Qlapa, Retno Hapsari selaku general manager dan pengurus XSProject menceritakan banyak hal, membongkar isi dapur dan menegaskan 3 misi penting yang dibawa XSProject.

Baca juga: Modal Rp20 Ribu, Omzet Hibrkraft Kini Rp20 Juta Perbulan!

3 Misi Penting XSProject

XSproject4

XSProject didirikan pada tahun 2004 silam oleh seorang seniman, dan kini, perjuangannya dilanjutkan oleh Retno. Ia menjelaskan, bahwa XSProject tidak dimiliki oleh siapapun, tidak didirikan oleh siapapun. Sesuatu yang ada dan berjalan sampai saat ini di XSProject ditujukkan untuk para karyawan dan pemulung.

“Saya, Retno Hapsari bukan pemilik. XSProject itu tidak ada yang memiliki. Yang memiliki adalah anak-anak pemulung, komunitas pemulung di Cirendeu, atau para karyawan di XSProject. Jadi tidak ada yang memiliki,” tegasnya.

Lebih lanjut Retno menceritakan, bahwa ada 3 hal penting yang sangat krusial di tubuh XSProject. Pertama kepedulian mereka, para penggiat dan pekerjanya terhadap lingkungan, lalu nilai kemanusiaan dan inovasi dalam desain.

Lingkungan dan Tingkat Kesadaran

XSproject

Dari poin pertama, lingkungan, Retno berbicara panjang lebar tentang bagaimana XSProject mengemban misi untuk menyelamatkan bumi. Salah satunya dengan membuat satu produk berbahan dasar sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang. Ya, XSProject menggunakan sampah plastik dan juga lembar iklan billbord yang sudah usang dan tidak terpakai lagi. Mereka memanfaatkan semua hal tersebut dengan tujuan mengurangi tumpukan sampah di Jakarta.

“Produk XSProject itu selalu dari bahan yang sudah tidak dimanfaatkan lagi, salah satunya adalah plastik kemasan. Plastik kemasan itu adalah jenis sampah yang tidak diinginkan orang, tidak dipungut oleh pemulung dan tidak dikumpulkan oleh siapapun karena tidak bermanfaat lagi,” tutur Retno.

Baca juga: Lawe: Menyebarkan ‘Virus’ Cinta Tenun ke Generasi Muda

 Jika kembali bicara tentang Jakarta, dan ya sekali lagi, banjir masih menjadi permasalahan utama. Retno mengamini kemungkinan besar bencana ini disebabkan karena sungai-sungai minim penghijauan. Pesisir sungai dijadikan lahan pembangunan rumah, ditambah terisi sampah yang mengambang. Ironisnya, kita mengetahui hal ini dan tak sadar untuk membersihkan sendiri,

“Intinya, kita semua harus menyadari bahwa bumi kita itu semakin rusak. XSProject ingin mengajak dan mengedukasi teman-teman di Indonesia untuk peduli terhadap lingkungan bumi kita,” imbuhnya.

Kehidupan Pemulung dari Generasi ke Generasi

xsProject2

Dewasa ini kita tentu mengenal banyak organisasi sosial yang merebak, seperti kepedulian terhadap anak yatim, penanggulangan narkoba, atau anak jalanan. Khusus XSProject, kepedulian mereka tertuju pada kehidupan para pemulung, karena pemulung lah peran utama yang berhubungan langsung dengan lingkungan. “Pemulung adalah orang pertama yang memilah sampah, lalu dijual,” kata Retno.

Permasalahan utama bagi XSProject yang sudah hampir berdiri selama 15 tahun masih sama, yakni kondisi pemulung. Dari pengalaman Retno, ia berbagai cerita bahwa dari generasi ke generasi kondisi mereka masih tetap saja sama. Sang kakek seorang pemulung, ayahnya juga seorang pemulung, dan ironisnya sang anak masih harus jadi pemulung. “Artinya? Tidak ada perubahan. Berarti kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan para pemulung itu tidak berubah,” ujar wanita berusia 54 tahun tersebut.

Karena hal inilah XSProject berusaha memastikan setiap pendapatan dari produk yang terjual mengalir ke tangan para pemulung itu sendiri. Memastikan setiap anak-anak pemulung, atau mereka yang tinggal di lingkungan pemulung dapat berkesempatan untuk menempuh pendidikan. “Kalau saja satu anak bisa sekolah besok, itu sesuatu yang lebih baik. Imagine that. Seorang anak tak perlu lagi menjadi pemulung,” tambah Retno.

Meramu Limbah menjadi Produk yang Fungsional

Dapur XSProject terbilang mungil. Berisi tim finansial, business development, quality control dan 4 orang penjahit professional. Kantor yang seringkali beralih menjadi ladang workshop dan edukasi tersebut menjadi ‘tempat pembuangan sampah’ plastik para pemulung.

Dari hasil pengumpulan sampah plastik, mereka memberikan penghasilan lebih kepada para pemulung, selain berniat membersihkan sampah di Jakarta. Setelah dibeli sampah tersebut disulap menjadi produk yang tidak mudah rusak dan praktis, seperti yang bisa kamu lihat di Qlapa.

Produk XSProject didesain seunik dan sepraktis mungkin dengan harapan dapat berguna bagi para pembeli. Produk jadinya antara lain adalah tote bag, pouch, tas belanja, dan Selain secara online, mereka juga mendistribusikan produknya ke berbagai tempat. Ketika ditanya hasil penjualan mereka, Retno menjawab dengan lirih bahwa ternyata lebih banyak orang asing yang tertarik membeli. Mereka lah yang turut serta membantu anak negeri untuk bisa bersekolah, tidak memulung. Lebih ironis lagi, orang asing lah justru yang banyak membantu program-program yang dimiliki XSProject dengan donasi. Dan ini diakui oleh Retno.

Dari cerita di atas, rasanya sedikit ‘mencubit’ kita sebagai penduduk Indonesia. Tujuan mulia yang diemban XSProject malah mendapat dukungan penuh dari orang asing. Namun, inilah pembelajaran penting bagi orang-orang Indonesia, kesadaran akan menjaga dan melestarikan lingkungan kita adalah tugas kita sendiri.

Tugas ini bukan hanya dilakukan dan dirasakan oleh kita, tapi untuk generasi selanjutnya. Buat kamu yang ingin mengetahui lebih lanjut XSProject, kamu bisa mengintip mereka di www.xsproject-id.org atau di www.globalgiving.org/xsproject.

TEST

Modal Rp20 Ribu, Omzet Hibrkraft Kini Rp20 Juta Perbulan!

Hibrkraft hadir untuk mengajak generasi muda kembali menulis jurnal.

Sebagian dari kamu mungkin menekuni hobi ala kadarnya, semata-mata untuk mencari kepuasan sendiri, ada juga yang menekuninya secara professional seperti atlet. Semua dapat berkembang tergantung dari bagaimana kamu memaksimalkan hobi tersebut. Jika beruntung, hobi yang kamu miliki bisa berkembang menjadi bisnis yang menggiurkan, lho.

Hal inilah yang dirasakan oleh Ibrahim Anwar. Berbekal hobinya menulis, Anwar mendirikan Hibrkraft, brand yang berfokus menghasilkan produk handmande berupa jurnal untuk menulis. Kepada Qlapa, Anwar menceritakan perjalanannya mendirikan Hibrkraft.

Dari Hobi ke Produk Tulis

Lelaki kelahiran 1992 yang akrab disapa Anwar ini memiliki hobi menulis. Ia bercerita, sejak kecil kerap melihat sang Ibu menulis, apa pun itu. Ibarat pepatah ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’, kini Anwar mewarisi kegemaran sang Ibu. “Saya jadi suka nulis karena dari kecil liat ibu suka nulis. Apa aja ditulis. Kadang cerpen, kadang catatan belanja, apa aja,” kata Anwar.

Cikal bakal Hibrkfraft dimulai Anwar sejak tahun 2011. Pada awalnya, dengan modal Rp20.000 ia membuat 3 buah jurnal untuk kebutuhan menulisnya. Dari ketiga jurnal itu hanya satu yang terpakai dan ia mencoba memasarkan sisanya. “Bikin model hardcover, dari bahan-bahan bekas seperti kalendar. Saya jual awalnya enggak ada yang mau. Terus akhirnya ada yang beli tuh satu, itu juga karena kasihan,” kata Anwar sambil tertawa.

Merasa produknya gagal, Anwar pun memutuskan untuk tidak lagi memproduksi jurnalnya. Baru pada 2013 lalu ia mulai lagi mulai lagi untuk membuat jurnal dengan desain yang berbeda. Pilihannya jatuh pada jurnal berbahan kulit.

Saat ini Hibrkraft memproduksi jurnal dari berbagai bahan, seperti kulit sintetis dan kulit nabati. Penggunaan bahan tergantung dari produk yang ingin dibuat. Ia mengaku menggunakan bahan kulit karena terinspirasi dari sebuah film. Film tersebut menceritakan seorang pendaki gunung yang selalu membawa buku catatan berbahan kulit ke mana pun pergi. “Dari film itu saya belajar bikin pakai bahan kulit. Ternyata animonya nge-hype banget. Nah, saya kumpulin uang terus saya beli kulit asli. Sampai sekarang berjalan stok udah banyak,” tutur Anwar.

Baca juga: Lawe, Menyebarkan Racun Cinta Tenun pada Generasi Muda

Membangkitkan semangat menulis tangan

Hibrkraft4

Bermarkas di Bojong Gede, Hibrkraft kini memiliki 6 pegawai, yakni 2 orang tim produksi, 3 orang marketing termasuk Anwar sendiri lalu seorang admin dan social media specialist. Setiap harinya mereka memproduksi jurnal murni hasil tangan. Setiap lembar setipis apapun hingga pemotongan kertas dilakukan sendiri, karena kesan handmade-lah yang menjadi ciri khas dari Hibrkraft.

Penjualan produk Hibrkraft tertuju pada anak muda. Di mana menurut mereka kini tingkat membaca dan menulis di kalangan anak muda tengah menurun. Para remaja beralih ke era di mana gadget menjadi senjata andalan dalam setiap aktivitas apapun. “Menulis pakai tangan tuh enggak boleh dihentikan menurut saya. Walau kita menulis di tablet yang bisa gambar-gambar, tetap saja rasanya berbeda,” tutur Anwar.

Jika kita membayangkan, tentu akan terasa berbeda saat kita menggenggam pensil dan gadget. Mengerjakan sesuatu menggunakan tangan pasti terasa lebih bebas dan luwes dibanding gadget.

Usahanya membangkitkan semangat menulis kini juga mulai terasa. Dari penjualan jurnalnya yang dihargai mulai dari Rp30.000 – Rp210.000, Anwar mengaku dapat mengantongi omset rata-rata sekitar Rp 20 juta setiap bulan. Semua tergantung dari pesanan yang diterima. “Kalau corporate order, kita paling banyak 500-an jurnal. Di luar corporate order, sebulan produksi sekitar 50 sampai 60 jurnal,” tutur Anwar.

Baca juga: Canting Hijau dan Mimpi Besar Si Duta Batik

Hibrkraft, Produk handmade yang penuh inovasi

Hibrkraft
Proses pembuatan jurnal Hibrkraft (Foto: Hibrkraft)

Sekadar menjual jurnal semua orang bisa, namun Anwar ingin produk Hibrkraft memiliki nilai yang lebih. Hal ini ia lakukan dengan membuat produk handmade yang punya ciri khas tersendiri. “Semua dibuat dengan manual, sampai memotong kertasnya pun dilakukan dengan tangan. Sebenarnya bisa aja dilakukan dengan mesin, tapi nanti khas-nya Hibrkraft jadi hilang,” ujarnya. Pilihan untuk membuat produk handmade sendiri bukannya tanpa plus minus. Di satu sisi, ia tidak dapat membuat produk secara massal dalam waktu singkat. Namun hal ini bukan masalah baginya, karena dengan begitu, produk Hibrkraft juga bisa dipesan dengan custom.

“Kadang ya itu kalau custom-nya sudah terlalu rumit, sulit juga buatnya. Tapi di situ juga bagian serunya,” katanya. Kesungguhan dalam membuat produk yang berkulitas tinggi juga ditunjukkan dengan cara membuat prototype terlebih dulu. Alih-alih sekadar menjual, setiap produknya harus melewati uji kelayakan yang tidak sebentar. “Kenapa kita pakai ukuran segitu, bahan seperti itu, semua ada alasannya. Banyak juga produk yang kita coba bikin akhrnya nggak kita jual, karena menurut kita kurang oke,” imbuh Anwar.

Selain cukup ketat dalam ‘menyaring’ produk yang dijual ke pasaran, Anwar juga kerap ‘dipaksa’ oleh timnya untuk terus berinovasi. Salah satu buah inovasinya adalah jurnal yang beraroma kopi. “Waktu itu lagi mikirin mau bikin ide apa, pas sambil ngopi. Akhirnya kepikiranlah untuk bikin jurnal yang ada aroma kopinya. Jadilah jurnal yang jenis Kava. Sampai sekarang kita masih dalam tahap mendaftarkan hak ciptanya,” tuturnya.

Terus memupuk mimpi

Seri Kava (Foto: Hibrkraft)

Saat ini ribuan jurnal buatan Hibrkraft telah sampai ke tangan para penikmatnya. Mimpi Hibrkraft agar setiap anak muda melestarikan budaya menulis dan menggunakan produk Hibrkraft dengan bangga. Kedepannya, Anwar ingin membawa jurnal Hibrkraft agar dapat tekoneksi ke gadget, dengan tujuan menstimulus pengguna agar semakin tertarik untuk menulis.

Hal ini membuat Anwar terus semangat untuk mengembangkan bisnis yang sejalan dengan mimpinya. Hibrkraft sendiri juga menyimpan mimpi personal dari pendirinya yang disematkan pada nama brand tersebut. Hibrkraft ternyata diambil dari namanya lengkapnya sendiri, Ibrahim Anwar. “Hibr itu dari Haji dan Ibrahim, dengan tambahan kata kraft di akhir, jadilah Hibrkraft. Karena cita-cita saya mau naik haji, hahaha,” jelas Anwar ketika ditanya sudah Haji atau belum.

Semoga!

Kisah inspiratif lainnya:

SemburArt, Solusi “Keberantakan” yang Penuh Seni

Du’Anyam, Menganyam Mimpi Wanita NTT

TEST